A. Latar Belakang
Pendidik yang profesional mempunyai tugas utama adalah
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik, baik pada satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun
pendidikan yang lebih lanjut. Untuk melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang
pendidik PAUD harus menguasai kompetensi yang dipersyaratkan. Selaras dengan
kebijakan pembangunan yang meletakkan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
sebagai prioritas pembangunan nasional, maka kedudukan dan peran pendidik PAUD
semakin bermakna strategis dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas dalam
menghadapi era globalisasi.
Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dit. PPTK PAUDNI) sebagai
institusi pemerintah yang bertanggungjawab terhadap peningkatan mutu PTK PAUD
selalu berupaya melakukan terobosan dalam meningkatkan kompetensi PTK PAUD yang
akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini.
Setelah penyusunan petunjuk teknis penyelenggaraan Diklat
Berjenjang (tingkat Dasar, Lanjutan, dan Mahir) bagi PTK PAUD, maka diharapkan
penunjang sebagai bahan ajar dalam Diklat tersebut dapat dilengkapi.
Pemahaman Konsep Dasar PAUD merupakan hal yang sangat
penting dikuasai oleh pendidik maupun tenaga kependidikan PAUD karena merupakan
hal mendasar untuk dapat menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini yang
diharapkan akan melejitkan potensi anak didiknya.
B. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan
Penyusunan bahan ajar bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan pelatih, pendidik dan orangtua terhadap konsep dasar
PAUD
2. Sasaran
Bahan ajar ini diperuntukkan bagi Pelatih, Guru PAUD
(TK/KB/TPA/SPS), Guru Pendamping, Pengasuh,dan Orangtua.
C. Ruang Lingkup
1. Pengertian PAUD
2. Tujuan dan ruang lingkup PAUD
3. Landasan Filosofis PAUD
4. Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut pakar
tentang pentingnya PAUD
5. Prinsip-prinsip Pendekatan dalam pembelajaran anak usia
dini.
D. Petunjuk Belajar
Untuk dapat menguasai kompetensi dalam bahan ajar Konsep
Dasar PAUD ini, pendidik hendaknya mengikuti rambu-rambu berikut:
1. Baca uraian materi sesuai dengan urutan (Bab I, II, III,
dan Bab IV).
2. Ketika membaca bahan ajar ini, pendidik hendaknya
melakukan evaluasi diri apakah selama ini telah menguasai konsep dasar PAUD
sesuai dengan tahapan-tahapan yang dibahas dalam bahan ajar ini.
3. Sebelum memahami setiap tahapan dalam konsep dasar PAUD,
ulangi membaca dari awal bahan ajar, dan melanjutkan ke bahasan selanjutnya
setelah memahaminya.
4. Diskusikan dengan teman sejawat untuk mendapatkan
pemahaman yang lebih mendalam.
5. Praktekkan setiap tahapan yang dibahas dalam bahan ajar
ini.
6. Kerjakan latihan soal yang ada dalam bahan ajar ini.
7. Cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban dalam bahan
ajar.
8. Apabila masih ada separuh jawaban yang tidak cocok maka
ulangi lagi untuk lebih memahami isi bahan ajar ini
BAB II RENCANA PENYAJIAN MATERI
A. Kompetensi
Mampu memahami dan mengimplementasikan konsep dasar PAUD
pada lembaga PAUD dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
B. Indikator
Beberapa indikator yang dicapai setelah mempelajari bahan
ajar ini adalah sebagai berikut:
1. menjelaskan pengertian PAUD
2. menjelaskan tujuan dan ruang lingkup PAUD
3. menerapkan Landasan Filosofis PAUD pada Lembaga PAUD
4. memahami Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut
pakar tentang pentingnya PAUD
5. menjelaskan dan menerapkan prinsip-prinsip Pendekatan
dalam pembelajaran anak usia dini.
C. Materi/Sub Materi
Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
1. Pengertian PAUD
2. Tujuan dan ruang lingkup PAUD
3. Landasan Filosofis PAUD
4. Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut pakar
tentang pentingnya PAUD
5. Prinsip-prinsip Pendekatan dalam pembelajaran anak usia
dini.
D. Metode
1. Ceramah
2. Curah pendapat
3. Penugasan
4. Diskusi kelompok
5. Presentasi Hasil kerja kelompok
E. Penilaian
1. Test (Pre test dan post test)
2. Observasi
3. Penugasan individu dan kelompok
F. Alokasi Waktu
4 jam pelajaran @ 45 menit
G. Sumber Belajar
1. Permendiknas 58 tahun 2009
2. Menu Generik
3. Pedoman dan Juknis Penyelenggaraan Diklat Berjenjang
(tingkat Dasar) .
H. Media Pembelajaran
1. LCD
2. Laptop
3. Screen
4. Kertas plano
5. ATK (spidol/marker, pen)
6. Kertas HVS
7. Papan whiteboard
I. Penyajian Materi
Materi Konsep Dasar PAUD dapat disampaikan pada kegiatan
diklat, kursus, magang, pemberdayaan Gugus PAUD, forum ilmiah/seminar/ workshop
Pendidik PAUD. Rencana penyajian akan disampaikan secara interaktif, koperatif,
dan kontekstual. 5
Rencana Penyajian Materi
POSTTES
PROSES PEMBELAJARAN
PRETES
MATERI
1. Pengertian PAUD
2. Tujuan dan ruang lingkup PAUD
3. Landasan Filosofis PAUD
4. Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut pakar
tentang pentingnya PAUD
5. Prinsip-prinsip Pendekatan dalam pembelajaran anak usia
dini.
Metode
Ceramah
Tanya Jawab
Simulasi
Demostrasi
Partisipatori
Diskusi
Media
Laptop dan LCD
powerpoint
BAB III. URAIAN MATERI
A. Pengertian
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk satuan
pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini yang pada hakekatnya adalah
pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan
dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan
seluruh aspek kepribadian anak.
PAUD adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing,
mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan
dan keterampilan pada anak (kompetensi).
B. Tujuan dan Ruang
Lingkup PAUD
1. Tujuan PAUD, pada umumnya tujuan PAUD adalah
mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup
dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tujuan PAUD antara lain adalah:
a. Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut
b. Mengurangi angka mengulang kelas
c. Mengurangi angka putus Sekolah (DO)
d. Mempercepat pencapaian Wajib belajar Pendidikan Dasar 9
tahun
e. Meningkatkan Mutu Pendidikan
f. Mengurangi angka buta huruf muda
g. Memperbaiki derajat kesehatan & gizi anak usia dini
h. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Selain tujuan diatas, menurut UNESCO (2005) tujuan PAUD
antara lain berdasarkan beberapa alasan:
a. Alasan Pendidikan: PAUD merupakan pondasi awal dalam
meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi,
menurunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah.
b. Alasan Ekonomi: PAUD merupakan investasi yang
menguntungkan baik bagi keluarga maupun pemerintah
c. Alasan sosial: PAUD merupakan salah satu upaya untuk
menghentikan roda kemiskinan
d. Alasan Hak/Hukum: PAUD merupakan hak setiap anak untuk
memperoleh pendidikan yang dijamin oleh undang-undang.
PAUD juga bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya
potensi anak agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri,
percaya diri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Sedangkan Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, dan cakap. (Puskur,
Depdiknas: 2007).
Solehuddin (1997) mengemukakan bahwa pendidikan anak usia
dini dimaksudkan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara
optimal dan menyeluruh sesuai dengan norma dan nilai-nilai kehidupan yang
dianut.
Melalui PAUD, anak diharapkan dapat mengembangkan segenap
potensi yang dimilikinya antara lain: agama, kognitif, sosial-emosional,
bahasa, motorik kasar dan motorik halus, serta kemandirian; memiliki
dasar-dasar aqidah yang lurus sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya,
memiliki kebiasaan-kebiasaan perilaku 8
yang diharapkan, menguasai sejumlah pengetahuan dan
keterampilan dasar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya, serta
memiliki motivasi dan sikap belajar yang positif.
Sejalan dengan pernyataan di atas, tujuan PAUD adalah untuk
mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat
berfungsi sebagai manusia yang utuh sesuai dengan falsafah suatu bangsa. Anak
dapat dipandang sebagai individu yang baru mengenal dunia. Ia belum mengetahui
tatakrama, sopan santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia.
Ia juga sedang belajar berkomunikasi dengan orang lain dan belajar memahami
orang lain. Anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang dunia
dan isinya. Ia juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan
dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di
masyarakat.
2. Ruang Lingkup PAUD
Satuan Layanan PAUD, Pendidikan Anak usia dini
diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui
jalur pendidkan formal, nonformal, dan/atau informal.
Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal
diselenggarakan pada Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk
lain yang sederajat, rentang usia anak 4 – 6 tahun.
Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal
diselenggarakan pada Kelompok Bermain (KB) rentang usia anak 2 – 4 tahun, Taman
Penitipan Anak (TPA) rentang usia anak 3 bulan – 2 tahun, atau bentuk lain yang
sederajat (Satuan PAUD Sejenis/SPS) rentang usia anak 4 – 6 tahun.
Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan informal
diselenggarakan pada pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan
oleh lingkungan, bagi orangtua yang mempunyai anak usia 0 – 6 tahun. 9
C. LANDASAN FILOSOFIS
PAUD
1. Pandangan Pestalozzi
Johann Heinrich Pestalozzi adalah seorang ahli pendidikan
Swiss yang hidup antara 1746-1827. Pestalozzi adalah seorang tokoh yang
memiliki pengaruh cukup besar dalam dunia pendidikan. Pestalozzi berpandangan
bahwa anak pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik. Pertumbuhan dan
perkembangan yang terjadi pada anak berlangsung secara bertahap dan
berkesinambung-an. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa masing-masing tahap
partumbuhan dan perkembangan seorang individu haruslah tercapai dengan sukses
sebelum berlanjut pada tahap berikutnya.
Permasalahan yang muncul dalam suatu tahap perkembangan akan
menjadi hambatan bagi individu tersebut dalam menyelesaikan tugas
perkembangannya dan hal ini akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada
tahap berikutnya.
Pestalozzi memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pendidikan
adalah berdasarkan pengaruh panca indera, dan melalui pengalaman-pengalaman
tersebut potensi-potensi yang dimiliki oleh seorang individu dapat
dikembangkan. Pestalozzi percaya bahwa cara belajar yang terbaik untuk mengenal
berbagai konsep adalah dengan melalui berbagai pengalaman antara lain dengan
menghitung, mengukur, merasakan dan menyentuhnya.
Pandangannya tentang tujuan pendidikan ialah memimpin anak
menjadi orang yang baik dengan jalan mengembangkan semua daya yang dimiliki
oleh anak. Ia memandang bahwa segala usaha yang dilakukan oleh orang dewasa
harus disesuaikan dengan perkembangan anak menurut kodratnya, sebab pendidikan
pada hakekatnya adalah suatu usaha pemberian pertolongan agar anak dapat
menolong dirinya sendiri di kemudian hari. Pandangan Pestalozzi 10
tentang anak dapat disimpulkan bahwa anak harus aktif dalam
menolong atau mendidik dirinya sendiri. Selain itu perkembangan anak
berlangsung secara teratur, maju setahap demi setahap, implikasi atau
pengaruhnya adalah bahwa pembelajaranpun harus maju teratur selangkah demi selangkah.
Selain itu Pestalozzi memandang bahwa keluarga merupakan cikal bakal pendidikan
yang pertama, sehingga baginya seorang ibu memiliki tanggung jawab yang cukup
besar dalam memberikan dasar-dasar pendidikan yang pertama bagi anak-anaknya.
Dari pandangannya tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan terutama
lingkungan keluarga memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk kepribadian
seorang anak pada awal kehidupannya. Kasih sayang yang didapatkan anak dalam
lingkungan keluarganya akan membantu mengembangkan potensinya. Dalam pandangan
Pestalozzi kecintaan yang diberikan ibu kepada anaknya akan memberikan pengaruh
terhadap keluarga, serta menimbulkan rasa terima kasih dalam diri anak. Pada
akhirnya, rasa terima kasih tersebut akan menimbulkan kepercayaan anak terhadap
Tuhan. Dari uraian di atas, nampak bahwa Pestalozzi menghendaki bentuk
pendidikan yang harmonis yang seimbang antara jasmani, rohani, social dan
agama.
2. Pandangan Maria
Montessori
Maria Montessori hidup sekitar tahun 1870-1952. Ia adalah
seorang dokter dan ahli tentang manusia yang berasal dari Italia.
Pemikiran-pemikiran serta metode yang dikembangkannya masih populer di seluruh
dunia.
Pandangan Montessori tentang anak tidak terlepas dari pengaruh
pemikiran ahli yang lain yaitu Rousseau dan Pestalozzi yang menekankan pada
pentingnya kondisi lingkungan yang bebas dan 11
penuh kasih agar potensi yang dimiliki anak dapat berkembang
secara optimal.
Montessori memandang perkembangan anak usia prasekolah/TK
sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan
merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi,
kemandirian dan pengarahan diri.
Menurut Montessori, persepsi anak tentang dunia merupakan
dasar dari ilmu pengetahuan.
Untuk itu ia merancang sejumlah materi yang memungkinkan
indera seorang anak dikembangkan. Dengan menggunakan materi untuk mengoreksi
diri, anak menjadi sadar terhadap berbagai macam rangsangan yang kemudian
disusun dalam pikirannya.
Montessori mengembangkan alat-alat belajar yang memungkinkan
anak untuk mengeksplorasi lingkungan. Pendidikan Montessori juga mencakup
pendidikan jasmani, berkebun dan belajar tentang alam. Montessori beranggapan
bahwa pendidikan merupakan suatu upaya untuk membantu perkembangan anak secara
menyeluruh dan bukan sekedar mengajar. Spirit atau nilai-nilai dasar
kemanusiaan itu berkembang melalui interaksi antara anak dengan lingkungannya.
Montessori meyakini bahwa ketika dilahirkan, anak secara
bawaan sudah memiliki pola perkembangan psikis atau jiwa. Pola ini tidak dapat
teramati sejak lahir. Tetapi sejalan dengan proses perkembangan yang dilaluinya
maka akan dapat teramati. Anak memiliki motif atau dorongan yang kuat ke arah
pembentukan jiwanya sendiri (self construction) sehingga secara spontan
akan berusaha untuk membentuk dirinya melalui pemahaman terhadap lingkungannya.
Montessori menyatakan bahwa dalam perkembangan anak terdapat
masa peka, suatu masa yang ditandai dengan begitu tertariknya anak terhadap
suatu objek atau karakteristik tertentu serta cenderung mengabaikan objek yang
lainnya. Pada masa tersebut anak memiliki kebutuhan dalam jiwanya yang secara
spontan meminta kepuasan.
Masa peka ini tidak bisa dipastikan kapan timbulnya pada
diri seorang anak, karena bersifat spontan dan tanpa paksaan. Setiap anak 12
memiliki masa peka yang berbeda. Satu hal yang perlu
diperhatikan adalah bahwa jika masa peka tersebut tidak dipergunakan secara
optimal maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi anak untuk mendapatkan masa
pekanya kembali. Tetapi meskipun demikian, guru dapat memprediksi atau
memperkirakan timbulnya masa peka pada seorang anak dengan melihat minat anak
pada saat itu. Berkaitan dengan hal tersebut maka tugas seorang guru adalah
mengamati dengan teliti perkembangan setiap muridnya yang berhubungan dengan
masa pekanya. Kemudian guru dapat memberikan stimulasi atau rangsangan yang
dapat membantu berkembangnya masa peka anak sesuai dengan fungsinya. Anak
memiliki kemampuan untuk membangun sendiri pengetahuannya, dan hal tersebut
dilakukan oleh anak mulai dari awal sekali. Gejala psikis atau kejiwaan yang
memungkinkan anak membangun pengetahuannya sendiri dikenal dengan istilah jiwa
penyerap (absorbent mind). Dengan gejala psikis/kejiwaan tersebut anak
dapat melakukan penyerapan secara tidak sadar terhadap lingkungannya, kemudian
menggabungkannya dalam kehidupan psikis/jiwanya. Seiring dengan
perkembangannya, maka proses penyerapan tersebut akan berangsur disadari.
3. Pandangan Froebel
Froebel yang bernama lengkap Friendrich Wilheim August
Froebel, lahir di Jerman pada tahun 1782 dan wafat pada tahun 1852.
Pandangannya tentang anak banyak dipengaruhi oleh Pestalozzi
serta para filsuf Yunani. Froebel memandang anak sebagai individu yang pada
kodratnya bersifat baik. Sifat yang buruk timbul karena kurangnya pendidikan
atau pengertian yang dimiliki oleh anak tersebut. Setiap tahap perkembangan
yang 13
dialami oleh anak harus dipandang sebagai suatu kesatuan
yang utuh. Anak memiliki potensi, dan potensi itu akan hilang jika tidak dibina
dan dikembangkan.
Tahun-tahun pertama dalam kehidupan seorang anak amatlah
berharga serta akan menentukan kehidupannya di masa yang akan datang. Oleh
karena itu masa anak merupakan masa emas (The Golden Age) bagi
penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase/tahap yang sangat
fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase/tahap inilah terjadinya
peluang yang cukup besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang.
Pendidikan keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak
dalam kehidupannya, sangatlah penting, karena kehidupan yang dialami oleh anak
pada masa kecilnya akan menentukan kehidupannya di masa depan.
Froebel memandang pendidikan dapat membantu perkembangan
anak secara wajar. Ia menggunakan taman sebagai simbol dari pendidikan anak.
Apabila anak mendapatkan pengasuhan yang tepat, maka seperti halnya tanaman
muda akan berkembang secara wajar mengikuti hukumnya sendiri. Pendidikan taman
kanak-kanak harus mengikuti sifat dan karakteristik anak. Oleh sebab itu
bermain dipandang sebagai metode yang tepat untuk membelajarkan anak, serta
merupakan cara anak dalam meniru kehidupan orang dewasa di sekelilingnya secara
wajar. Froebel memiliki keyakinan tentang pentingnya belajar melalui bermain 14
4. Pandangan J.J.
Rousseau
Jean Jacques Rousseau yang hidup antara Tahun 1712 sampai
dengan tahun 1778, Dilahirkan di Geneva, Swiss, tetapi sebagian besar waktunya
dihabiskan di Perancis.
Rousseau menyarankan konsep “kembali ke alam” dan pendekatan
yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak. Bagi Rousseau pendekatan alamiah
berarti anak akan berkembang secara optimal, tanpa hambatan.
Menurutnya pula bahwa pendidikan yang bersifat alamiah
menghasilkan dan memacu berkembangnya kualitas semacam kebahagiaan, spontanitas
dan rasa ingin tahu. Rousseau percaya bahwa walaupun kita telah melakukan
kontrol terhadap pendidikan yang diperoleh dari pengalaman sosial dan melalui
indera, tetapi kita tetap tidak dapat mengontrol pertumbuhan yang sifatnya
alami.
Untuk mengetahui kebutuhan anak, guru harus mempelajari ilmu
yang berkaitan dengan anak-anak. Tujuannnya adalah agar guru dapat memberikan
pelajaran yang sesuai dengan minat anak. Jadi yang menjadi titik pangkal adalah
anak. Tujuan pendidikan menurut gagasan Rousseau adalah membentuk anak menjadi
manusia yang bebas.
Rousseau memiliki keyakinan bahwa seorang ibu dapat menjamin
pendidikan anaknya secara alamiah. Ia berprinsip bahwa dalam mendidik anak,
orang tua perlu memberi kebebasan pada anak agar mereka dapat berkembang secara
alamiah 15
5. Pandangan Jean
Piaget dan Lev Vigotsky
Pandangan konstruktivis dimotori oleh dua orang ahli
psikilogi yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya paham konstruktivis
ini mempunyai asumsi bahwa anak adalah pembangun pengetahuan yang aktif. Anak
mengkonstruksi/membangun pengeta-huannya berdasarkan pengalamannya.
Pengetahuan tersebut diperoleh anak dengan cara membangunnya
sendiri secara aktif melalui interaksi yang dilakukannya dengan lingkungan.
Menurut paham ini anak bukanlah individu yang bersifat
pasif, yang hanya menerima pengetahuannya dari orang lain. Anak adalah makhluk
belajar yang aktif yang dapat mengkreasi/mencipta dan membangun pengetahuannya
sendiri.
Para ahli konstruktif meyakini bahwa pembelajaran terjadi
saat anak memahami dunia di sekeliling kita mereka. Pembelajaran menjadi proses
interaktif yang melibatkan teman sebaya anak, orang dewasa dan lingkungan. Anak
membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia. Mereka memahami apa yang
terjadi di sekeliling mereka dengan mensintesa pengalaman-pengalaman baru
dengan apa yang telah mereka pahami sebelumnya.
Contoh berikut ini akan membantu Anda untuk memahami
pandangan ini. Seorang anak TK yang keluarganya memiliki seekor anjing
berjalan-jalan dengan mengendarai mobil bersama keluarganya. Mereka melintasi
seekor sapi di suatu lapangan. Anak itu menunjuk dan mengatakan “anjing”. Orang
tuanya memberitahukan anak tersebut bahwa binatang tersebut bukanlah seekor
anjing melainkan sapi dan bahwa sapi berbeda dengan anjing. Informasi yang baru
tersebut akan dicerna dengan apa yang telah diketahui dan penyesuaian mental
akan terbentuk. 16
Meskipun anak harus membangun sendiri pemahaman,
pengetahuan, dan pembelajaran mereka, peran orang dewasa sebagai fasilitator
dan mediator sangatlah penting.
Berdasarkan asumsi tadi nampak bahwa pendekatan ini
menekankan pada pentingnya keterlibatan anak dalam proses pembelajaran. Untuk
itu maka guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan,
akrab, dan hangat melalui kegiatan bermain maupun berinteraksi dengan
lingkungan sehingga dapat merangsang partisipasi aktif dari anak.
Piaget dan Vigotsky sama-sama menekankan pada pentingnya
aktivitas bermain sebagai sarana untuk pendidikan anak, terutama yang berkaitan
dengan pengembangan kapasitas berfikir. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa
aktivitas bermain juga dapat menjadi akar bagi perkembangan perilaku moral. Hal
itu terjadi ketika dihadapkan pada suatu situasi yang menuntut mereka untuk
berempati serta memenuhi aturan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Interaksi yang dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya,
baik itu orang dewasa maupun anak-anak yang lainnya dapat memberikan bekal yang
cukup berharga bagi anak, karena dapat membantu mengembangkan kemampuan
berbahasa, berkomunikasi serta bersosialisasi, dan yang tidak kalah pentingnya
adalah melalui interaksi tersebut anak akan belajar memahami perasaan orang,
menghargai pendapat mereka, sehingga secara tidak langsung anak juga berlatih
mengekspresikan/menunjukkan emosinya.
6. Pandangan Ki
Hadjar Dewantara
Nama aslinya adalah Suwardi Suryaningrat lahir pada tanggal
2 Mei 1889. Ki Hadjar memandang anak sebagai kodrat alam yang memiliki
pembawaan masing-masing serta kemerdekaan untuk berbuat serta mengatur dirinya
sendiri. Akan tetapi kemerdekaan itu juga sangat relatif karena dibatasi oleh
hak-hak yang patut dimiliki oleh orang lain.
Ki Hajar Dewantoro
(1889-1959)
Anak memiliki hak untuk menentukan apa yang baik bagi
dirinya, sehingga anak patut diberi kesempatan untuk berjalan sendiri, dan
tidak terus menerus dicampuri atau dipaksa. Pamong hanya boleh memberikan bantuan
apabila anak menghadapi hambatan yang cukup berat dan tidak dapat diselesaikan.
Hal tersebut merupakan cerminan dari semboyan “tut wuri
handayani”. Ki Hadjar juga berpandangan bahwa pengajaran harus memberi
pengetahuan yang berfaedah lahir dan batin, serta dapat memerdekakan diri.
Kemerdekaan itu hendaknya diterapkan pada cara berfikir anak yaitu agar anak
tidak selalu diperintahkan atau dicekoki dengan buah pikiran orang lain saja
tetapi mereka harus dibiasakan untuk mencari serta menemukan sendiri berbagai
nilai pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan pikiran dan kemampuannya
sendiri.
Uraian di atas memperlihatkan bahwa Ki Hadjar memandang anak
sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang, sehingga pemberian
kesempatan yang luas bagi anak untuk mencari dan menemukan pengetahuan, secara
tidak langsung akan memberikan peluang agar potensi yang dimiliki anak dapat
berkembang secara optimal.
Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa anak lahir dengan
kodrat atau pembawaannya masing-masing. Kekuatan kodrati yang 18
ada pada anak ini tiada lain adalah segala kekuatan dalam
kehidupan batin dan lahir anak yang ada karena kekuasaan kodrat (karena faktor
pembawaan atau keturunan yang ditakdirkan secara ajali).
Kodrat anak bisa baik dan bisa pula sebaliknya. Kodrat
itulah yang akan memberikan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dengan pemahaman seperti di atas, Dewantara memandang bahwa
pendidikan itu sifatnya hanya menuntun bertumbuhkembangnya kekuatan-kekuatan
kodrati yang dimiliki anak. Pendidikan sama sekali tidak mengubah dasar
pembawaan anak, kecuali memberikan tuntunan agar kodrat-kodrat bawaan anak itu
bertumbuhkembang ke arah yang lebih baik.
Pendidikan berfungsi menuntun anak yang berpembawaan tidak
baik menjadi lebih berkualitas lagi disamping untuk mencegahnya dari segala
macam pengaruh jahat. Dengan demikian, tujuan pendidikan itu adalah untuk
menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar ia sebagai anggota masyarakat
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaaan yang setinggi-tingginya dalam
hidupnya.”
Demikian beberapa pendapat para ahli yang telah
mengungkapkan pendapatnya mengenai hakekat anak. Apakah kesimpulan Anda
mengenai hakekat anak dari berbagai pendapat yang telah Anda baca. Baik,
setelah Anda memahami mengenai hakekat anak selanjutnya Anda akan mengikuti
uraian mengenai bagaiman cara belajar anak yang juga sangat penting untuk Anda
ketahui. 19
D. Landasan Yuridis
dan Beberapa pandangan menurut pakar tentang pentingnya PAUD
1. Landasan Yuridis:
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945, dinyatakan
bahwa: “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Selanjutnya pada Amandemen Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 28 B ayat 2
dinyatakan bahwa: ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak pasal 9 Ayat 1 dinyatakan bahwa: ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan
dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya
sesuai dengan minat dan bakatnya”.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa: “Pendidikan anak usia dini
adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai
dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut".
Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini
dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang
pendidikan dasar, (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui
jalur pendidkan formal, nonformal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia
dini jalur pendidikan formal: Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA),
atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
nonformal: Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain
yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan
keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6)
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini 20
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan
ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”
Dalam dokumen Permendiknas nomor 58 tahun 2009 tentang
Standar Pendidikan Anak Usia Dini, dinyatakan bahwa “Standar tingkat pencapaian
perkembangan berisi kaidah pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sejak
lahir sampai dengan usia enam tahun. Tingkat perkembangan yang diharapkan dapat
dicapai anak pada setiap tahap perkembangannya, bukan merupakan suatu tingkat
pencapaian kecakapan akademik”.
2. Beberapa pandangan menurut pakar tentang pentingnya PAUD
Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka
keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari
beberapa displin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu
pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi serta neuro-sains
atau ilmu tentang perkembangan otak manusia (Yuliani, 2009: 10).
Berdasarkan tinjauan secara psikologi dan ilmu pendidikan,
masa usia dini merupakan masa peletakan dasar atau fondasi awal bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak. Apa yang diterima anak pada masa usia dini,
apakah itu makanan, minuman, serta stimulasi dari lingkungannya memberikan
kontribusi yang sangat besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa
itu dan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan
kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Dari segi empiris banyak sekali
penelitian yang menyimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting,
karena pada waktu manusia dilahirkan, menurut Clark (dalam Yuliani, 2009)
kelengkapan organisasi otaknya mencapai 100 – 200 milyard sel otak yang siap
dikembangkan dan diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan optimal,
tetapi hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang terpakai
karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak. 21
Usia dini (lahir – 6 tahun) merupakan masa perkembangan dan
pertumbuhan yang sangat menentukan bagi anak di masa depannya atau disebut juga
masa keemasan (the golden age) namun sekaligus periode yang sangat kritis yang
menentukan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya.
Hasil penelitian/kajian ilmiah di bidang Neorologi oleh
Osbon, White, Bloom menyatakan bahwa: perkembangan intelektual/ kecerdasan anak
pada usia:
a. 0 – 4 tahun mencapai 50 %
b. 0 – 8 tahun mencapai 80 %
c. 0 – 18 tahun mencapai 100 %
Gambar 2. Perkembangan Intelektual Anak
Sedangkan pertumbuhan fisik otak anak pada usia:
a. 0 tahun mencapai 25 %
b. 6 tahun mencapai 85 %
c. 12 tahun mencapai 100 %
Jadi anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah
usia SD tidak benar, bahkan pendidikan yang dimulai pada usia TK (4-6 tahun)
pun sebenarnya sudah terlambat.
E. Prinsip-prinsip Pendekatan dalam Pembelajaran Anak Usia
Dini
Pendidikan anak usia dini pelaksanaannya menggunakan
prinsip-prinsip PAUD sebagai berikut:
1. Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa
berorientasi kepada kebutuhan anak. Menurut Maslow kebutuhan anak yang sangat
mendasar adalah kebutuhan fisik (rasa lapar dan haus), anak dapat belajar
apabila tidak dalam kondisi lapar dan haus. Kebutuhan berikutnya adalah
kebutuhan keamanan (merasa aman, terlindung dan bebas dari bahaya), dan
kebutuhan rasa dimiliki dan disayang (berhubungan dengan orang lain, rasa
diterima dan dimiliki). 23
2. Sesuai dengan Perkembangan Anak
Pembelajaran untuk anak usia dini harus disesuaikan dengan
tingkat perkembangan anak, baik usia maupun dengan kebutuhan individual anak.
Perkembangan anak mempunyai pola tertentu sesuai dengan garis waktu
perkembangan. Setiap anak berbeda perkembangannya ada yang cepat ada yang
lambat. Oleh karena itu, pembelajaran anak usia dini harus disesuaikan baik
lingkup maupun tingkat kesulitannya dengan kelompok usia anak.
3. Mengembangkan kecerdasan anak
Pembelajaran anak usia dini hendaknya tidak menjejali anak
dengan hafalan, tetapi mengembangkan kecerdasaanya. Penelitian di bidang
neuroscience (ilmu tentang saraf) menemukan bahwakecerdasan sangat dipengaruhi
oleh banyaknya sel saraf otak, hubungan antar sel saraf otak, dan keseimbangan
kinerja otak kanan dan otak kiri. Pada saat lahir sel otak sudah terbentuk
semua yang jumlahnya mencapai 100-200 miliar, dimana setiap sel dapat membuat
hubungan dengan 20.000 sel saraf otak lainnya, atau dengan kata lain dapat
membentuk kombinasi 100 miliar x 20.000. Oleh karena itu, anak usia (0-8 Tahun)
merupakan usia yang sangat kritis bagi pengembangan kecerdasan anak. Sayangnya,
banyak guru, orang tua, dan pendidik anak usia dini yang “mengunci mati” sel
otak tersebut untuk menjalankan fungsi kapasitasnya yang tak terhingga
(unlimited capacity to learn) (Semiawan, 2004).
Oleh karena itu guru dan orang tua perlu memahami teknik
stimulasi otak yang tepat untuk mengembangkan kecerdasan anak, bukan sekedar
menjejali anak dengan informasi hafalan.
4. Belajar melalui bermain
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan
pendidikan anak usia dini, dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan,
dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak
diajak untuk berekplorasi (penjajagan), menemukan, dan memanfaatkan benda-benda
di sekitarnya.
5. Belajar dari kongkrit ke abstrak, sederhana ke
kompleks, gerakan ke verbal, dan dari sendiri ke sosial.
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara
bertahap, dimulai dari yang kongkrit ke abstrak, dari konsep yang sederhana ke
kompleks, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial. Agar konsep
dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan-kegiatan yang
berulang-ulang.
6. Anak sebagai Pembelajar Aktif
Anak melakukan sendiri kegiatan pembelajarannya, sehingga
anak aktif, guru hanya sebagai fasilitator atau mengawasi dari jauh.
7. Anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang
dewasa dan teman sebaya di lingkungannya
Ketika anak berinteraksi dengan teman sebayanya, maka anak
akan belajar, begitu juga ketika anak berinteraksi dengan orang dewasa (guru,
orangtua)
Gambar 14. Anak berinteaksi dengan teman sebaya dan guru
8. Menggunakan lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik
dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat
mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
9. Merangsang kreativitas dan inovasi
Proses kreatif dan inovatif dapat dilakukan melalui
kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi
anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru.
10. Mengembangkan kecakapan hidup
Pendidikan anak usia dini mengembangkan diri anak secara
menyeluruh (the whole child). Berbagai kecakapan dilatihkan agar anak kelak
menjadi manusia seutuhnya. Bagian dari diri anak yang dikembangkan meliputi
bidang fisik-motorik, intelektual, moral, sosial, emosi, kreativitas, dan
bahasa. Tujuannya ialah agar kelak anak berkembang menjadi manusia yang utuh
yang memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia, cerdas dan terampil, mampu
bekerja sama dengan orang lain, mampu hidup berbangsa, bernegara dan
bermasyarakat.
Mengembangkan kecakapan hidup dapat dilakukan melalui
berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk
menolong diri sendiri (mandiri), disiplin, mampu bersosialisasi, dan memperoleh
bekal keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya. 29
11. Memanfaatkan potensi lingkungan
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan
alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik/guru.
12. Sesuai dengan kondisi sosial budaya
Pembelajaran anak usia dini harus sesuai dengan kondisi
sosial budaya. Apa yang dipelajari anak adalah persoalan nyata sesuai dengan
kondisi dimana anak berada. Berbagai objek yang ada disekitar anak, kejadian,
dan isu-isu yang menarik dapat diangkat sebagai tema persoalan belajar.
Gambar 19. Membiasakan Anak dengan budaya antri
13. Stimulasi secara holistik
Pembelajaran anak usia dini sebaiknya bersifat terpadu atau
holistik. Anak tidak belajar mata pelajaran tertentu, seperti IPA, Matematika,
Bahasa secara terpisah, tetapi fenomena dan kejadian yang ada disekitarnya.
Melalui bermain dengan air anak dapat belajar berhitung (matematika), mengenal
sifat-sifat air (IPA), menggambar air mancur (seni), dan fungsi air untuk
kehidupan (IPS).
RANGKUMAN MATERI
PAUD adalah pemberian upaya
untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran
yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak (kompetensi).
Tujuan PAUD antara lain adalah:
1. Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut
2. Mengurangi angka mengulang kelas
3. Mengurangi angka putus Sekolah (DO)
4. Mempercepat pencapaian Wajib belajar Pendidikan Dasar 9
tahun
5. Meningkatkan Mutu Pendidikan
6. Mengurangi angka buta huruf muda
7. Memperbaiki derajat kesehatan & gizi anak usia dini
8. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Selain tujuan diatas, menurut
UNESCO (2005) tujuan PAUD antara lain berdasarkan beberapa alasan:
1. Alasan Pendidikan: PAUD merupakan pondasi awal dalam
meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi,
menurunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah.
2. Alasan Ekonomi: PAUD merupakan investasi yang
menguntungkan baik bagi keluarga maupun pemerintah
3. Alasan sosial: PAUD merupakan salah satu upaya untuk
menghentikan roda kemiskinan
4. Alasan Hak/Hukum: PAUD merupakan hak setiap anak untuk
memperoleh pendidikan yang dijamin oleh undang-undang.
Melalui PAUD, anak diharapkan
dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya antara lain: agama,
kognitif, sosial-emosional, bahasa, motorik kasar dan motorik halus, serta
kemandirian; memiliki dasar-dasar aqidah yang lurus sesuai dengan ajaran agama
yang dianutnya, memiliki kebiasaan-kebiasaan perilaku yang diharapkan,
menguasai sejumlah
pengetahuan dan keterampilan dasar sesuai dengan kebutuhan
dan tingkat perkembangannya, serta memiliki motivasi dan sikap belajar yang
positif.
Ruang lingkup PAUD di Indonesia
mencakup usia sejak lahir sampai dengan 6 (enam) tahun. Pengelompokan usia anak
dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Anak usia 0 – 1 tahun disebut infant (bayi)
2. Anak usia 1 – 3 tahun disebut toddler (batita = bawah
tiga tahun)
3. Anak usia 3 – 4 tahun disebut playgroup (kelompok
bermain)
4. Anak usia 4 – 6 tahun disebut kindergarten (TK)
Landasan Filosofis PAUD
1. Pandangan Pestalozzi
Pestalozzi berpandangan bahwa anak pada dasarnya memiliki
pembawaan yang baik. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak
berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan. Lebih lanjut ia mengemukakan
bahwa masing-masing tahap partumbuhan dan perkembangan seorang individu
haruslah tercapai dengan sukses sebelum berlanjut pada tahap berikutnya.
Pestalozzi percaya bahwa cara belajar yang terbaik untuk
mengenal berbagai konsep adalah dengan melalui berbagai pengalaman antara lain
dengan menghitung, mengukur, merasakan dan menyentuhnya.
2. Pandangan Maria Montessori
Montessori memandang perkembangan anak usia prasekolah/ TK
sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan
merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi,
kemandirian dan pengarahan diri.
Gejala psikis atau kejiwaan yang memungkinkan anak membangun
pengetahuannya sendiri dikenal dengan istilah jiwa penyerap (absorbent
mind). 34
3. Pandangan Froebel
Pendidikan keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak
dalam kehidupannya, sangatlah penting, karena kehidupan yang dialami oleh anak
pada masa kecilnya akan menentukan kehidupannya di masa depan.
Froebel memandang pendidikan dapat membantu perkembangan
anak secara wajar. Ia menggunakan taman sebagai simbol dari pendidikan anak.
Apabila anak mendapatkan pengasuhan yang tepat, maka seperti halnya tanaman
muda akan berkembang secara wajar mengikuti hukumnya sendiri.
4. Pandangan J.J. Rousseau
Rousseau memiliki keyakinan bahwa seorang ibu dapat menjamin
pendidikan anaknya secara alamiah. Ia berprinsip bahwa dalam mendidik anak,
orang tua perlu memberi kebebasan pada anak agar mereka dapat berkembang secara
alamiah
5. Pandangan Jean Piaget dan Lev Vigotsky
Pandangan konstruktivis dimotori oleh dua orang ahli
psikilogi yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya paham konstruktivis
ini mempunyai asumsi bahwa anak adalah pembangun pengetahuan yang aktif. Anak
mengkonstruksi pengetahuannya berdasarkan pengalamannya.
Piaget dan Vigotsky sama-sama menekankan pada pentingnya
aktivitas bermain sebagai sarana untuk pendidikan anak, terutama yang berkaitan
dengan pengembangan kapasitas berfikir. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa
aktivitas bermain juga dapat menjadi akar bagi perkembangan perilaku moral. Hal
itu terjadi ketika dihadapkan pada suatu situasi yang menuntut mereka untuk
berempati serta memenuhi aturan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. 35
6. Pandangan Ki Hadjar Dewantara
Nama aslinya adalah Suwardi Suryaningrat, Ki Hadjar
memandang anak sebagai kodrat alam yang memiliki pembawaan masing-masing serta
kemerdekaan untuk berbuat serta mengatur dirinya sendiri. Anak memiliki hak
untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya, sehingga anak patut diberi
kesempatan untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri atau
dipaksa. Pamong (guru) hanya boleh memberikan bantuan apabila anak menghadapi
hambatan yang cukup berat dan tidak dapat diselesaikan.
Pendidikan sama sekali tidak mengubah dasar pembawaan anak,
kecuali memberikan tuntunan agar kodrat-kodrat bawaan anak itu
bertumbuh-kembang ke arah yang lebih baik.
Prinsip-prinsip Pendekatan dalam
Pembelajaran Anak Usia Dini
1. Berorientasi pada kebutuhan anak
2. Sesuai dengan perkembangan anak
3. Mengembangkan kecerdasan anak
4. Belajar melalui bermain
5. Belajar dari kongkrit ke abstrak, sederhana ke kompleks,
gerakan ke verbal, dan dari sendiri ke sosial.
6. Anak sebagai pebelajar aktif
7. Anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa
dan teman sebaya di lingkungannya
8. Menggunakan lingkungan yang kondusif
9. Merangsang kreativitas dan inovasi
10. Mengembangkan kecakapan hidup
11. Memanfaatkan potensi lingkungan
12. Sesuai dengan kondisi sosial budaya
13. Stimulasi secara holistik
SOAL LATIHAN
Jawabalah pertanyaan berikut ini dengan memilih salah satu
jawaban yang dianggap paling benar:
1. Pendidikan anak usia dini adalah.............
a. pendidikan untuk anak usia 4 – 6 tahun
b. pendidikan yang ditujukan kepada anak-anak yang kurang
mampu
c. pendidikan untuk anak usia 2 – 4 tahun dalam membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
d. Tidak ada jawaban yang benar
2. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan
minat dan bakatnya, sesuai dengan.............
a. pembukaan UUD 1945
b. amandemen UUD 1945
c. UU nomor 23 tahun 2002
d. UU nomor 20 tahun 2003
3. Pendidikan Anak Usia Dini dapat diselenggarakan pada………
a. jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal
b. Taman Penitipan Anak, Taman Kanak-kanak, Kelompok
Bermain, dan Satuan PAUD Sejenis
c. jawaban a dan b benar
d. jawaban a dan b salah
4. Anak harus aktif dalam menolong atau mendidik dirinya
sendiri dan perkembangan anak berlangsung secara teratur, maju setahap demi
setahap, menurut……………
a. Montessori
b. Jean Piaget
c. Pestalozzi 37
d. Froebel
5. Perkembangan anak terdapat masa peka, yang ditandai
dengan begitu tertariknya anak terhadap suatu objek atau karakteristik tertentu
sehingga cenderung mengabaikan objek yang lainnya, menurut…………
a. Montessori
b. Jean Piaget
c. Pestalozzi
d. Froebel
6. Seorang ibu dapat menjamin pendidikan anaknya secara
alamiah, dalam mendidik anak orang tua perlu member kebebasan pada anak agar
mereka dapat berkembang secara alamiah, menurut………
a. Montessori
b. Rousseau
c. Pestalozzi
d. Froebel
7. Anak adalah makhluk belajar yang aktif yang dapat
mengkreasi/mencipta dan membangun pengetahuannya sendiri, menurut………
a. Montessori
b. Jean Piaget
c. Pestalozzi
d. Froebel
8. Anak harus dibiasakan untuk mencari serta menemukan
sendiri berbagai nilai pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan pikiran
dan kemampuannya sendiri, menurut………..
a. Montessori
b. Jean Piaget
c. Ki Hajar Dewantara
d. Froebel 38
9. Menurut Maslow kebutuhan anak yang sangat mendasar
adalah………
a. Rasa dimiliki dan disayang
b. merasa aman, terlindung dan bebas dari bahaya
c. lapar dan haus
d. berprestasi, mampu, disetujui
10. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan
pendidikan anak usia dini, dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan,
dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak
dapat……….
a. berekplorasi (penjajagan)
b. menemukan
c. memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.
d. semua jawaban benar 39
DAFTAR PUSTAKA
Masitoh dkk. (2005) Strategi Pembelajaran TK.
Jakarta: 2005.
Patmonodewo, Soemiarti. (2003) Pendidikan Anak Prasekolah.
Jakarta: Rineka Cipta.
Siti Aisyah dkk. (2007) Perkembangan dan Konsep Dasar
Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sujiono, Yuliani Nurani. (2009) Konsep Dasar Pendidikan
Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Visimedia
Hildebrand, Verna (1986), Introduction to Early Childhood
Education 4th ed. New York: Mac Millan Publishing Company
Mayke S. Teja Saputra. (2001). Bermain, Mainan dan
Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: Grasindo
Wolfgang, Charles H. and Mary E. Wolfgang. (1992). School
for Young Children. Boston: Allyn and Bacon 40
Kunci Jawaban
1. d
2. c
3. c
4. c
5. a
6. b
7. b
8. c
9. c
10. d