Sabtu, 30 Januari 2016

KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI


A. Latar Belakang
Pendidik yang profesional mempunyai tugas utama adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, baik pada satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun pendidikan yang lebih lanjut. Untuk melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang pendidik PAUD harus menguasai kompetensi yang dipersyaratkan. Selaras dengan kebijakan pembangunan yang meletakkan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai prioritas pembangunan nasional, maka kedudukan dan peran pendidik PAUD semakin bermakna strategis dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas dalam menghadapi era globalisasi.
Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dit. PPTK PAUDNI) sebagai institusi pemerintah yang bertanggungjawab terhadap peningkatan mutu PTK PAUD selalu berupaya melakukan terobosan dalam meningkatkan kompetensi PTK PAUD yang akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini.
Setelah penyusunan petunjuk teknis penyelenggaraan Diklat Berjenjang (tingkat Dasar, Lanjutan, dan Mahir) bagi PTK PAUD, maka diharapkan penunjang sebagai bahan ajar dalam Diklat tersebut dapat dilengkapi.
Pemahaman Konsep Dasar PAUD merupakan hal yang sangat penting dikuasai oleh pendidik maupun tenaga kependidikan PAUD karena merupakan hal mendasar untuk dapat menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini yang diharapkan akan melejitkan potensi anak didiknya.

B. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan

Penyusunan bahan ajar bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pelatih, pendidik dan orangtua terhadap konsep dasar PAUD
2. Sasaran

Bahan ajar ini diperuntukkan bagi Pelatih, Guru PAUD (TK/KB/TPA/SPS), Guru Pendamping, Pengasuh,dan Orangtua.

C. Ruang Lingkup
1. Pengertian PAUD
2. Tujuan dan ruang lingkup PAUD
3. Landasan Filosofis PAUD
4. Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut pakar tentang pentingnya PAUD
5. Prinsip-prinsip Pendekatan dalam pembelajaran anak usia dini.

D. Petunjuk Belajar
Untuk dapat menguasai kompetensi dalam bahan ajar Konsep Dasar PAUD ini, pendidik hendaknya mengikuti rambu-rambu berikut:
1. Baca uraian materi sesuai dengan urutan (Bab I, II, III, dan Bab IV).
2. Ketika membaca bahan ajar ini, pendidik hendaknya melakukan evaluasi diri apakah selama ini telah menguasai konsep dasar PAUD sesuai dengan tahapan-tahapan yang dibahas dalam bahan ajar ini.
3. Sebelum memahami setiap tahapan dalam konsep dasar PAUD, ulangi membaca dari awal bahan ajar, dan melanjutkan ke bahasan selanjutnya setelah memahaminya.
4. Diskusikan dengan teman sejawat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.
5. Praktekkan setiap tahapan yang dibahas dalam bahan ajar ini.
6. Kerjakan latihan soal yang ada dalam bahan ajar ini.
7. Cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban dalam bahan ajar.
8. Apabila masih ada separuh jawaban yang tidak cocok maka ulangi lagi untuk lebih memahami isi bahan ajar ini

BAB II  RENCANA PENYAJIAN MATERI

A. Kompetensi
Mampu memahami dan mengimplementasikan konsep dasar PAUD pada lembaga PAUD dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

B. Indikator
Beberapa indikator yang dicapai setelah mempelajari bahan ajar ini adalah sebagai berikut:
1. menjelaskan pengertian PAUD
2. menjelaskan tujuan dan ruang lingkup PAUD
3. menerapkan Landasan Filosofis PAUD pada Lembaga PAUD
4. memahami Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut pakar tentang pentingnya PAUD
5. menjelaskan dan menerapkan prinsip-prinsip Pendekatan dalam pembelajaran anak usia dini.

C. Materi/Sub Materi
Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
1. Pengertian PAUD
2. Tujuan dan ruang lingkup PAUD
3. Landasan Filosofis PAUD
4. Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut pakar tentang pentingnya PAUD
5. Prinsip-prinsip Pendekatan dalam pembelajaran anak usia dini.

D. Metode
1. Ceramah
2. Curah pendapat
3. Penugasan
4. Diskusi kelompok
5. Presentasi Hasil kerja kelompok


E. Penilaian
1. Test (Pre test dan post test)
2. Observasi
3. Penugasan individu dan kelompok

F. Alokasi Waktu

4 jam pelajaran @ 45 menit
G. Sumber Belajar
1. Permendiknas 58 tahun 2009
2. Menu Generik
3. Pedoman dan Juknis Penyelenggaraan Diklat Berjenjang (tingkat Dasar) .

H. Media Pembelajaran
1. LCD
2. Laptop
3. Screen
4. Kertas plano
5. ATK (spidol/marker, pen)
6. Kertas HVS
7. Papan whiteboard

I. Penyajian Materi

Materi Konsep Dasar PAUD dapat disampaikan pada kegiatan diklat, kursus, magang, pemberdayaan Gugus PAUD, forum ilmiah/seminar/ workshop Pendidik PAUD. Rencana penyajian akan disampaikan secara interaktif, koperatif, dan kontekstual. 5
Rencana Penyajian Materi
POSTTES
PROSES PEMBELAJARAN
PRETES
MATERI
1. Pengertian PAUD
2. Tujuan dan ruang lingkup PAUD
3. Landasan Filosofis PAUD
4. Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut pakar tentang pentingnya PAUD
5. Prinsip-prinsip Pendekatan dalam pembelajaran anak usia dini.
Metode
Ceramah
Tanya Jawab
Simulasi
Demostrasi
Partisipatori
Diskusi
Media
Laptop dan LCD
powerpoint



BAB III.  URAIAN MATERI

A. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini yang pada hakekatnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak.
PAUD adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak (kompetensi).

B. Tujuan dan Ruang Lingkup PAUD
1. Tujuan PAUD, pada umumnya tujuan PAUD adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tujuan PAUD antara lain adalah:
a. Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut
b. Mengurangi angka mengulang kelas
c. Mengurangi angka putus Sekolah (DO)
d. Mempercepat pencapaian Wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun
e. Meningkatkan Mutu Pendidikan
f. Mengurangi angka buta huruf muda
g. Memperbaiki derajat kesehatan & gizi anak usia dini
h. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Selain tujuan diatas, menurut UNESCO (2005) tujuan PAUD antara lain berdasarkan beberapa alasan:
a. Alasan Pendidikan: PAUD merupakan pondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, menurunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah.
b. Alasan Ekonomi: PAUD merupakan investasi yang menguntungkan baik bagi keluarga maupun pemerintah
c. Alasan sosial: PAUD merupakan salah satu upaya untuk menghentikan roda kemiskinan
d. Alasan Hak/Hukum: PAUD merupakan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh undang-undang.

PAUD juga bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi anak agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Sedangkan Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, dan cakap. (Puskur, Depdiknas: 2007).
Solehuddin (1997) mengemukakan bahwa pendidikan anak usia dini dimaksudkan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan menyeluruh sesuai dengan norma dan nilai-nilai kehidupan yang dianut.
Melalui PAUD, anak diharapkan dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya antara lain: agama, kognitif, sosial-emosional, bahasa, motorik kasar dan motorik halus, serta kemandirian; memiliki dasar-dasar aqidah yang lurus sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, memiliki kebiasaan-kebiasaan perilaku 8
yang diharapkan, menguasai sejumlah pengetahuan dan keterampilan dasar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya, serta memiliki motivasi dan sikap belajar yang positif.
Sejalan dengan pernyataan di atas, tujuan PAUD adalah untuk mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh sesuai dengan falsafah suatu bangsa. Anak dapat dipandang sebagai individu yang baru mengenal dunia. Ia belum mengetahui tatakrama, sopan santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia. Ia juga sedang belajar berkomunikasi dengan orang lain dan belajar memahami orang lain. Anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang dunia dan isinya. Ia juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat.

2. Ruang Lingkup PAUD
Satuan Layanan PAUD, Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, nonformal, dan/atau informal.
Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal diselenggarakan pada Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat, rentang usia anak 4 – 6 tahun.
Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal diselenggarakan pada Kelompok Bermain (KB) rentang usia anak 2 – 4 tahun, Taman Penitipan Anak (TPA) rentang usia anak 3 bulan – 2 tahun, atau bentuk lain yang sederajat (Satuan PAUD Sejenis/SPS) rentang usia anak 4 – 6 tahun.
Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan informal diselenggarakan pada pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, bagi orangtua yang mempunyai anak usia 0 – 6 tahun. 9
C. LANDASAN FILOSOFIS PAUD
 1. Pandangan Pestalozzi
Johann Heinrich Pestalozzi adalah seorang ahli pendidikan Swiss yang hidup antara 1746-1827. Pestalozzi adalah seorang tokoh yang memiliki pengaruh cukup besar dalam dunia pendidikan. Pestalozzi berpandangan bahwa anak pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak berlangsung secara bertahap dan berkesinambung-an. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa masing-masing tahap partumbuhan dan perkembangan seorang individu haruslah tercapai dengan sukses sebelum berlanjut pada tahap berikutnya.
Permasalahan yang muncul dalam suatu tahap perkembangan akan menjadi hambatan bagi individu tersebut dalam menyelesaikan tugas perkembangannya dan hal ini akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada tahap berikutnya.
Pestalozzi memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pendidikan adalah berdasarkan pengaruh panca indera, dan melalui pengalaman-pengalaman tersebut potensi-potensi yang dimiliki oleh seorang individu dapat dikembangkan. Pestalozzi percaya bahwa cara belajar yang terbaik untuk mengenal berbagai konsep adalah dengan melalui berbagai pengalaman antara lain dengan menghitung, mengukur, merasakan dan menyentuhnya.
Pandangannya tentang tujuan pendidikan ialah memimpin anak menjadi orang yang baik dengan jalan mengembangkan semua daya yang dimiliki oleh anak. Ia memandang bahwa segala usaha yang dilakukan oleh orang dewasa harus disesuaikan dengan perkembangan anak menurut kodratnya, sebab pendidikan pada hakekatnya adalah suatu usaha pemberian pertolongan agar anak dapat menolong dirinya sendiri di kemudian hari. Pandangan Pestalozzi 10
tentang anak dapat disimpulkan bahwa anak harus aktif dalam menolong atau mendidik dirinya sendiri. Selain itu perkembangan anak berlangsung secara teratur, maju setahap demi setahap, implikasi atau pengaruhnya adalah bahwa pembelajaranpun harus maju teratur selangkah demi selangkah. Selain itu Pestalozzi memandang bahwa keluarga merupakan cikal bakal pendidikan yang pertama, sehingga baginya seorang ibu memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam memberikan dasar-dasar pendidikan yang pertama bagi anak-anaknya. Dari pandangannya tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan terutama lingkungan keluarga memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk kepribadian seorang anak pada awal kehidupannya. Kasih sayang yang didapatkan anak dalam lingkungan keluarganya akan membantu mengembangkan potensinya. Dalam pandangan Pestalozzi kecintaan yang diberikan ibu kepada anaknya akan memberikan pengaruh terhadap keluarga, serta menimbulkan rasa terima kasih dalam diri anak. Pada akhirnya, rasa terima kasih tersebut akan menimbulkan kepercayaan anak terhadap Tuhan. Dari uraian di atas, nampak bahwa Pestalozzi menghendaki bentuk pendidikan yang harmonis yang seimbang antara jasmani, rohani, social dan agama.
2. Pandangan Maria Montessori
Maria Montessori hidup sekitar tahun 1870-1952. Ia adalah seorang dokter dan ahli tentang manusia yang berasal dari Italia. Pemikiran-pemikiran serta metode yang dikembangkannya masih populer di seluruh dunia.
Pandangan Montessori tentang anak tidak terlepas dari pengaruh pemikiran ahli yang lain yaitu Rousseau dan Pestalozzi yang menekankan pada pentingnya kondisi lingkungan yang bebas dan 11
penuh kasih agar potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal.
Montessori memandang perkembangan anak usia prasekolah/TK sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi, kemandirian dan pengarahan diri.
Menurut Montessori, persepsi anak tentang dunia merupakan dasar dari ilmu pengetahuan.
Untuk itu ia merancang sejumlah materi yang memungkinkan indera seorang anak dikembangkan. Dengan menggunakan materi untuk mengoreksi diri, anak menjadi sadar terhadap berbagai macam rangsangan yang kemudian disusun dalam pikirannya.
Montessori mengembangkan alat-alat belajar yang memungkinkan anak untuk mengeksplorasi lingkungan. Pendidikan Montessori juga mencakup pendidikan jasmani, berkebun dan belajar tentang alam. Montessori beranggapan bahwa pendidikan merupakan suatu upaya untuk membantu perkembangan anak secara menyeluruh dan bukan sekedar mengajar. Spirit atau nilai-nilai dasar kemanusiaan itu berkembang melalui interaksi antara anak dengan lingkungannya.
Montessori meyakini bahwa ketika dilahirkan, anak secara bawaan sudah memiliki pola perkembangan psikis atau jiwa. Pola ini tidak dapat teramati sejak lahir. Tetapi sejalan dengan proses perkembangan yang dilaluinya maka akan dapat teramati. Anak memiliki motif atau dorongan yang kuat ke arah pembentukan jiwanya sendiri (self construction) sehingga secara spontan akan berusaha untuk membentuk dirinya melalui pemahaman terhadap lingkungannya.
Montessori menyatakan bahwa dalam perkembangan anak terdapat masa peka, suatu masa yang ditandai dengan begitu tertariknya anak terhadap suatu objek atau karakteristik tertentu serta cenderung mengabaikan objek yang lainnya. Pada masa tersebut anak memiliki kebutuhan dalam jiwanya yang secara spontan meminta kepuasan.
Masa peka ini tidak bisa dipastikan kapan timbulnya pada diri seorang anak, karena bersifat spontan dan tanpa paksaan. Setiap anak 12
memiliki masa peka yang berbeda. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika masa peka tersebut tidak dipergunakan secara optimal maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi anak untuk mendapatkan masa pekanya kembali. Tetapi meskipun demikian, guru dapat memprediksi atau memperkirakan timbulnya masa peka pada seorang anak dengan melihat minat anak pada saat itu. Berkaitan dengan hal tersebut maka tugas seorang guru adalah mengamati dengan teliti perkembangan setiap muridnya yang berhubungan dengan masa pekanya. Kemudian guru dapat memberikan stimulasi atau rangsangan yang dapat membantu berkembangnya masa peka anak sesuai dengan fungsinya. Anak memiliki kemampuan untuk membangun sendiri pengetahuannya, dan hal tersebut dilakukan oleh anak mulai dari awal sekali. Gejala psikis atau kejiwaan yang memungkinkan anak membangun pengetahuannya sendiri dikenal dengan istilah jiwa penyerap (absorbent mind). Dengan gejala psikis/kejiwaan tersebut anak dapat melakukan penyerapan secara tidak sadar terhadap lingkungannya, kemudian menggabungkannya dalam kehidupan psikis/jiwanya. Seiring dengan perkembangannya, maka proses penyerapan tersebut akan berangsur disadari.
3. Pandangan Froebel
Froebel yang bernama lengkap Friendrich Wilheim August Froebel, lahir di Jerman pada tahun 1782 dan wafat pada tahun 1852.
Pandangannya tentang anak banyak dipengaruhi oleh Pestalozzi serta para filsuf Yunani. Froebel memandang anak sebagai individu yang pada kodratnya bersifat baik. Sifat yang buruk timbul karena kurangnya pendidikan atau pengertian yang dimiliki oleh anak tersebut. Setiap tahap perkembangan yang 13
dialami oleh anak harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh. Anak memiliki potensi, dan potensi itu akan hilang jika tidak dibina dan dikembangkan.
Tahun-tahun pertama dalam kehidupan seorang anak amatlah berharga serta akan menentukan kehidupannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu masa anak merupakan masa emas (The Golden Age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase/tahap yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase/tahap inilah terjadinya peluang yang cukup besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang.
Pendidikan keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak dalam kehidupannya, sangatlah penting, karena kehidupan yang dialami oleh anak pada masa kecilnya akan menentukan kehidupannya di masa depan.
Froebel memandang pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar. Ia menggunakan taman sebagai simbol dari pendidikan anak. Apabila anak mendapatkan pengasuhan yang tepat, maka seperti halnya tanaman muda akan berkembang secara wajar mengikuti hukumnya sendiri. Pendidikan taman kanak-kanak harus mengikuti sifat dan karakteristik anak. Oleh sebab itu bermain dipandang sebagai metode yang tepat untuk membelajarkan anak, serta merupakan cara anak dalam meniru kehidupan orang dewasa di sekelilingnya secara wajar. Froebel memiliki keyakinan tentang pentingnya belajar melalui bermain 14
4. Pandangan J.J. Rousseau
Jean Jacques Rousseau yang hidup antara Tahun 1712 sampai dengan tahun 1778, Dilahirkan di Geneva, Swiss, tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan di Perancis.
Rousseau menyarankan konsep “kembali ke alam” dan pendekatan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak. Bagi Rousseau pendekatan alamiah berarti anak akan berkembang secara optimal, tanpa hambatan.
Menurutnya pula bahwa pendidikan yang bersifat alamiah menghasilkan dan memacu berkembangnya kualitas semacam kebahagiaan, spontanitas dan rasa ingin tahu. Rousseau percaya bahwa walaupun kita telah melakukan kontrol terhadap pendidikan yang diperoleh dari pengalaman sosial dan melalui indera, tetapi kita tetap tidak dapat mengontrol pertumbuhan yang sifatnya alami.
Untuk mengetahui kebutuhan anak, guru harus mempelajari ilmu yang berkaitan dengan anak-anak. Tujuannnya adalah agar guru dapat memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat anak. Jadi yang menjadi titik pangkal adalah anak. Tujuan pendidikan menurut gagasan Rousseau adalah membentuk anak menjadi manusia yang bebas.
Rousseau memiliki keyakinan bahwa seorang ibu dapat menjamin pendidikan anaknya secara alamiah. Ia berprinsip bahwa dalam mendidik anak, orang tua perlu memberi kebebasan pada anak agar mereka dapat berkembang secara alamiah 15
5. Pandangan Jean Piaget dan Lev Vigotsky
Pandangan konstruktivis dimotori oleh dua orang ahli psikilogi yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya paham konstruktivis ini mempunyai asumsi bahwa anak adalah pembangun pengetahuan yang aktif. Anak mengkonstruksi/membangun pengeta-huannya berdasarkan pengalamannya.
Pengetahuan tersebut diperoleh anak dengan cara membangunnya sendiri secara aktif melalui interaksi yang dilakukannya dengan lingkungan.
Menurut paham ini anak bukanlah individu yang bersifat pasif, yang hanya menerima pengetahuannya dari orang lain. Anak adalah makhluk belajar yang aktif yang dapat mengkreasi/mencipta dan membangun pengetahuannya sendiri.
Para ahli konstruktif meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak memahami dunia di sekeliling kita mereka. Pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya anak, orang dewasa dan lingkungan. Anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia. Mereka memahami apa yang terjadi di sekeliling mereka dengan mensintesa pengalaman-pengalaman baru dengan apa yang telah mereka pahami sebelumnya.
Contoh berikut ini akan membantu Anda untuk memahami pandangan ini. Seorang anak TK yang keluarganya memiliki seekor anjing berjalan-jalan dengan mengendarai mobil bersama keluarganya. Mereka melintasi seekor sapi di suatu lapangan. Anak itu menunjuk dan mengatakan “anjing”. Orang tuanya memberitahukan anak tersebut bahwa binatang tersebut bukanlah seekor anjing melainkan sapi dan bahwa sapi berbeda dengan anjing. Informasi yang baru tersebut akan dicerna dengan apa yang telah diketahui dan penyesuaian mental akan terbentuk. 16
Meskipun anak harus membangun sendiri pemahaman, pengetahuan, dan pembelajaran mereka, peran orang dewasa sebagai fasilitator dan mediator sangatlah penting.
Berdasarkan asumsi tadi nampak bahwa pendekatan ini menekankan pada pentingnya keterlibatan anak dalam proses pembelajaran. Untuk itu maka guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, akrab, dan hangat melalui kegiatan bermain maupun berinteraksi dengan lingkungan sehingga dapat merangsang partisipasi aktif dari anak.
Piaget dan Vigotsky sama-sama menekankan pada pentingnya aktivitas bermain sebagai sarana untuk pendidikan anak, terutama yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas berfikir. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa aktivitas bermain juga dapat menjadi akar bagi perkembangan perilaku moral. Hal itu terjadi ketika dihadapkan pada suatu situasi yang menuntut mereka untuk berempati serta memenuhi aturan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Interaksi yang dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya, baik itu orang dewasa maupun anak-anak yang lainnya dapat memberikan bekal yang cukup berharga bagi anak, karena dapat membantu mengembangkan kemampuan berbahasa, berkomunikasi serta bersosialisasi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah melalui interaksi tersebut anak akan belajar memahami perasaan orang, menghargai pendapat mereka, sehingga secara tidak langsung anak juga berlatih mengekspresikan/menunjukkan emosinya.

6. Pandangan Ki Hadjar Dewantara
Nama aslinya adalah Suwardi Suryaningrat lahir pada tanggal 2 Mei 1889. Ki Hadjar memandang anak sebagai kodrat alam yang memiliki pembawaan masing-masing serta kemerdekaan untuk berbuat serta mengatur dirinya sendiri. Akan tetapi kemerdekaan itu juga sangat relatif karena dibatasi oleh hak-hak yang patut dimiliki oleh orang lain.
Ki Hajar Dewantoro
(1889-1959)
Anak memiliki hak untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya, sehingga anak patut diberi kesempatan untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri atau dipaksa. Pamong hanya boleh memberikan bantuan apabila anak menghadapi hambatan yang cukup berat dan tidak dapat diselesaikan.
Hal tersebut merupakan cerminan dari semboyan “tut wuri handayani”. Ki Hadjar juga berpandangan bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah lahir dan batin, serta dapat memerdekakan diri. Kemerdekaan itu hendaknya diterapkan pada cara berfikir anak yaitu agar anak tidak selalu diperintahkan atau dicekoki dengan buah pikiran orang lain saja tetapi mereka harus dibiasakan untuk mencari serta menemukan sendiri berbagai nilai pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan pikiran dan kemampuannya sendiri.
Uraian di atas memperlihatkan bahwa Ki Hadjar memandang anak sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang, sehingga pemberian kesempatan yang luas bagi anak untuk mencari dan menemukan pengetahuan, secara tidak langsung akan memberikan peluang agar potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal.
Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa anak lahir dengan kodrat atau pembawaannya masing-masing. Kekuatan kodrati yang 18
ada pada anak ini tiada lain adalah segala kekuatan dalam kehidupan batin dan lahir anak yang ada karena kekuasaan kodrat (karena faktor pembawaan atau keturunan yang ditakdirkan secara ajali).
Kodrat anak bisa baik dan bisa pula sebaliknya. Kodrat itulah yang akan memberikan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dengan pemahaman seperti di atas, Dewantara memandang bahwa pendidikan itu sifatnya hanya menuntun bertumbuhkembangnya kekuatan-kekuatan kodrati yang dimiliki anak. Pendidikan sama sekali tidak mengubah dasar pembawaan anak, kecuali memberikan tuntunan agar kodrat-kodrat bawaan anak itu bertumbuhkembang ke arah yang lebih baik.
Pendidikan berfungsi menuntun anak yang berpembawaan tidak baik menjadi lebih berkualitas lagi disamping untuk mencegahnya dari segala macam pengaruh jahat. Dengan demikian, tujuan pendidikan itu adalah untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar ia sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaaan yang setinggi-tingginya dalam hidupnya.”
Demikian beberapa pendapat para ahli yang telah mengungkapkan pendapatnya mengenai hakekat anak. Apakah kesimpulan Anda mengenai hakekat anak dari berbagai pendapat yang telah Anda baca. Baik, setelah Anda memahami mengenai hakekat anak selanjutnya Anda akan mengikuti uraian mengenai bagaiman cara belajar anak yang juga sangat penting untuk Anda ketahui. 19

D. Landasan Yuridis dan Beberapa pandangan menurut pakar tentang pentingnya PAUD
1. Landasan Yuridis:
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945, dinyatakan bahwa: “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”. Selanjutnya pada Amandemen Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa: ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 9 Ayat 1 dinyatakan bahwa: ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya”.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa: “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut".
Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, nonformal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal: Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini 20
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”
Dalam dokumen Permendiknas nomor 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, dinyatakan bahwa “Standar tingkat pencapaian perkembangan berisi kaidah pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Tingkat perkembangan yang diharapkan dapat dicapai anak pada setiap tahap perkembangannya, bukan merupakan suatu tingkat pencapaian kecakapan akademik”.
2. Beberapa pandangan menurut pakar tentang pentingnya PAUD
Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa displin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi serta neuro-sains atau ilmu tentang perkembangan otak manusia (Yuliani, 2009: 10).
Berdasarkan tinjauan secara psikologi dan ilmu pendidikan, masa usia dini merupakan masa peletakan dasar atau fondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Apa yang diterima anak pada masa usia dini, apakah itu makanan, minuman, serta stimulasi dari lingkungannya memberikan kontribusi yang sangat besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa itu dan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Dari segi empiris banyak sekali penelitian yang menyimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting, karena pada waktu manusia dilahirkan, menurut Clark (dalam Yuliani, 2009) kelengkapan organisasi otaknya mencapai 100 – 200 milyard sel otak yang siap dikembangkan dan diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan optimal, tetapi hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang terpakai karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak. 21
Usia dini (lahir – 6 tahun) merupakan masa perkembangan dan pertumbuhan yang sangat menentukan bagi anak di masa depannya atau disebut juga masa keemasan (the golden age) namun sekaligus periode yang sangat kritis yang menentukan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya.
Hasil penelitian/kajian ilmiah di bidang Neorologi oleh Osbon, White, Bloom menyatakan bahwa: perkembangan intelektual/ kecerdasan anak pada usia:
a. 0 – 4 tahun mencapai 50 %
b. 0 – 8 tahun mencapai 80 %
c. 0 – 18 tahun mencapai 100 %

Gambar 2. Perkembangan Intelektual Anak
Sedangkan pertumbuhan fisik otak anak pada usia:
a. 0 tahun mencapai 25 %
b. 6 tahun mencapai 85 %
c. 12 tahun mencapai 100 %
Jadi anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia SD tidak benar, bahkan pendidikan yang dimulai pada usia TK (4-6 tahun) pun sebenarnya sudah terlambat.
E. Prinsip-prinsip Pendekatan dalam Pembelajaran Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini pelaksanaannya menggunakan prinsip-prinsip PAUD sebagai berikut:
1. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Menurut Maslow kebutuhan anak yang sangat mendasar adalah kebutuhan fisik (rasa lapar dan haus), anak dapat belajar apabila tidak dalam kondisi lapar dan haus. Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan keamanan (merasa aman, terlindung dan bebas dari bahaya), dan kebutuhan rasa dimiliki dan disayang (berhubungan dengan orang lain, rasa diterima dan dimiliki). 23

2. Sesuai dengan Perkembangan Anak

Pembelajaran untuk anak usia dini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, baik usia maupun dengan kebutuhan individual anak. Perkembangan anak mempunyai pola tertentu sesuai dengan garis waktu perkembangan. Setiap anak berbeda perkembangannya ada yang cepat ada yang lambat. Oleh karena itu, pembelajaran anak usia dini harus disesuaikan baik lingkup maupun tingkat kesulitannya dengan kelompok usia anak.
3. Mengembangkan kecerdasan anak
Pembelajaran anak usia dini hendaknya tidak menjejali anak dengan hafalan, tetapi mengembangkan kecerdasaanya. Penelitian di bidang neuroscience (ilmu tentang saraf) menemukan bahwakecerdasan sangat dipengaruhi oleh banyaknya sel saraf otak, hubungan antar sel saraf otak, dan keseimbangan kinerja otak kanan dan otak kiri. Pada saat lahir sel otak sudah terbentuk semua yang jumlahnya mencapai 100-200 miliar, dimana setiap sel dapat membuat hubungan dengan 20.000 sel saraf otak lainnya, atau dengan kata lain dapat membentuk kombinasi 100 miliar x 20.000. Oleh karena itu, anak usia (0-8 Tahun) merupakan usia yang sangat kritis bagi pengembangan kecerdasan anak. Sayangnya, banyak guru, orang tua, dan pendidik anak usia dini yang “mengunci mati” sel otak tersebut untuk menjalankan fungsi kapasitasnya yang tak terhingga (unlimited capacity to learn) (Semiawan, 2004).
Oleh karena itu guru dan orang tua perlu memahami teknik stimulasi otak yang tepat untuk mengembangkan kecerdasan anak, bukan sekedar menjejali anak dengan informasi hafalan.

4. Belajar melalui bermain

Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan anak usia dini, dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan, dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk berekplorasi (penjajagan), menemukan, dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.

5. Belajar dari kongkrit ke abstrak, sederhana ke kompleks, gerakan ke verbal, dan dari sendiri ke sosial.
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari yang kongkrit ke abstrak, dari konsep yang sederhana ke kompleks, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan-kegiatan yang berulang-ulang.
6. Anak sebagai Pembelajar Aktif
Anak melakukan sendiri kegiatan pembelajarannya, sehingga anak aktif, guru hanya sebagai fasilitator atau mengawasi dari jauh.

7. Anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan teman sebaya di lingkungannya
Ketika anak berinteraksi dengan teman sebayanya, maka anak akan belajar, begitu juga ketika anak berinteraksi dengan orang dewasa (guru, orangtua)
Gambar 14. Anak berinteaksi dengan teman sebaya dan guru
8. Menggunakan lingkungan yang kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.

9. Merangsang kreativitas dan inovasi

Proses kreatif dan inovatif dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru.

10. Mengembangkan kecakapan hidup

Pendidikan anak usia dini mengembangkan diri anak secara menyeluruh (the whole child). Berbagai kecakapan dilatihkan agar anak kelak menjadi manusia seutuhnya. Bagian dari diri anak yang dikembangkan meliputi bidang fisik-motorik, intelektual, moral, sosial, emosi, kreativitas, dan bahasa. Tujuannya ialah agar kelak anak berkembang menjadi manusia yang utuh yang memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia, cerdas dan terampil, mampu bekerja sama dengan orang lain, mampu hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Mengembangkan kecakapan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri (mandiri), disiplin, mampu bersosialisasi, dan memperoleh bekal keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya. 29

11. Memanfaatkan potensi lingkungan

Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik/guru.


12. Sesuai dengan kondisi sosial budaya

Pembelajaran anak usia dini harus sesuai dengan kondisi sosial budaya. Apa yang dipelajari anak adalah persoalan nyata sesuai dengan kondisi dimana anak berada. Berbagai objek yang ada disekitar anak, kejadian, dan isu-isu yang menarik dapat diangkat sebagai tema persoalan belajar.
Gambar 19. Membiasakan Anak dengan budaya antri
13. Stimulasi secara holistik

Pembelajaran anak usia dini sebaiknya bersifat terpadu atau holistik. Anak tidak belajar mata pelajaran tertentu, seperti IPA, Matematika, Bahasa secara terpisah, tetapi fenomena dan kejadian yang ada disekitarnya. Melalui bermain dengan air anak dapat belajar berhitung (matematika), mengenal sifat-sifat air (IPA), menggambar air mancur (seni), dan fungsi air untuk kehidupan (IPS).

RANGKUMAN MATERI
PAUD adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak (kompetensi).

Tujuan PAUD antara lain adalah:
1. Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut
2. Mengurangi angka mengulang kelas
3. Mengurangi angka putus Sekolah (DO)
4. Mempercepat pencapaian Wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun
5. Meningkatkan Mutu Pendidikan
6. Mengurangi angka buta huruf muda
7. Memperbaiki derajat kesehatan & gizi anak usia dini
8. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Selain tujuan diatas, menurut UNESCO (2005) tujuan PAUD antara lain berdasarkan beberapa alasan:
1. Alasan Pendidikan: PAUD merupakan pondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, menurunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah.
2. Alasan Ekonomi: PAUD merupakan investasi yang menguntungkan baik bagi keluarga maupun pemerintah
3. Alasan sosial: PAUD merupakan salah satu upaya untuk menghentikan roda kemiskinan
4. Alasan Hak/Hukum: PAUD merupakan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh undang-undang.

Melalui PAUD, anak diharapkan dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya antara lain: agama, kognitif, sosial-emosional, bahasa, motorik kasar dan motorik halus, serta kemandirian; memiliki dasar-dasar aqidah yang lurus sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, memiliki kebiasaan-kebiasaan perilaku yang diharapkan, menguasai sejumlah

pengetahuan dan keterampilan dasar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya, serta memiliki motivasi dan sikap belajar yang positif.

Ruang lingkup PAUD di Indonesia mencakup usia sejak lahir sampai dengan 6 (enam) tahun. Pengelompokan usia anak dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Anak usia 0 – 1 tahun disebut infant (bayi)
2. Anak usia 1 – 3 tahun disebut toddler (batita = bawah tiga tahun)
3. Anak usia 3 – 4 tahun disebut playgroup (kelompok bermain)
4. Anak usia 4 – 6 tahun disebut kindergarten (TK)

Landasan Filosofis PAUD
1. Pandangan Pestalozzi

Pestalozzi berpandangan bahwa anak pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa masing-masing tahap partumbuhan dan perkembangan seorang individu haruslah tercapai dengan sukses sebelum berlanjut pada tahap berikutnya.
Pestalozzi percaya bahwa cara belajar yang terbaik untuk mengenal berbagai konsep adalah dengan melalui berbagai pengalaman antara lain dengan menghitung, mengukur, merasakan dan menyentuhnya.
2. Pandangan Maria Montessori

Montessori memandang perkembangan anak usia prasekolah/ TK sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi, kemandirian dan pengarahan diri.
Gejala psikis atau kejiwaan yang memungkinkan anak membangun pengetahuannya sendiri dikenal dengan istilah jiwa penyerap (absorbent mind). 34

3. Pandangan Froebel

Pendidikan keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak dalam kehidupannya, sangatlah penting, karena kehidupan yang dialami oleh anak pada masa kecilnya akan menentukan kehidupannya di masa depan.
Froebel memandang pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar. Ia menggunakan taman sebagai simbol dari pendidikan anak. Apabila anak mendapatkan pengasuhan yang tepat, maka seperti halnya tanaman muda akan berkembang secara wajar mengikuti hukumnya sendiri.
4. Pandangan J.J. Rousseau

Rousseau memiliki keyakinan bahwa seorang ibu dapat menjamin pendidikan anaknya secara alamiah. Ia berprinsip bahwa dalam mendidik anak, orang tua perlu memberi kebebasan pada anak agar mereka dapat berkembang secara alamiah
5. Pandangan Jean Piaget dan Lev Vigotsky

Pandangan konstruktivis dimotori oleh dua orang ahli psikilogi yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya paham konstruktivis ini mempunyai asumsi bahwa anak adalah pembangun pengetahuan yang aktif. Anak mengkonstruksi pengetahuannya berdasarkan pengalamannya.
Piaget dan Vigotsky sama-sama menekankan pada pentingnya aktivitas bermain sebagai sarana untuk pendidikan anak, terutama yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas berfikir. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa aktivitas bermain juga dapat menjadi akar bagi perkembangan perilaku moral. Hal itu terjadi ketika dihadapkan pada suatu situasi yang menuntut mereka untuk berempati serta memenuhi aturan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. 35

6. Pandangan Ki Hadjar Dewantara

Nama aslinya adalah Suwardi Suryaningrat, Ki Hadjar memandang anak sebagai kodrat alam yang memiliki pembawaan masing-masing serta kemerdekaan untuk berbuat serta mengatur dirinya sendiri. Anak memiliki hak untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya, sehingga anak patut diberi kesempatan untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri atau dipaksa. Pamong (guru) hanya boleh memberikan bantuan apabila anak menghadapi hambatan yang cukup berat dan tidak dapat diselesaikan.
Pendidikan sama sekali tidak mengubah dasar pembawaan anak, kecuali memberikan tuntunan agar kodrat-kodrat bawaan anak itu bertumbuh-kembang ke arah yang lebih baik.
Prinsip-prinsip Pendekatan dalam Pembelajaran Anak Usia Dini
1. Berorientasi pada kebutuhan anak
2. Sesuai dengan perkembangan anak
3. Mengembangkan kecerdasan anak
4. Belajar melalui bermain
5. Belajar dari kongkrit ke abstrak, sederhana ke kompleks, gerakan ke verbal, dan dari sendiri ke sosial.
6. Anak sebagai pebelajar aktif
7. Anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan teman sebaya di lingkungannya
8. Menggunakan lingkungan yang kondusif
9. Merangsang kreativitas dan inovasi
10. Mengembangkan kecakapan hidup
11. Memanfaatkan potensi lingkungan
12. Sesuai dengan kondisi sosial budaya
13. Stimulasi secara holistik

SOAL  LATIHAN
Jawabalah pertanyaan berikut ini dengan memilih salah satu jawaban yang dianggap paling benar:
1. Pendidikan anak usia dini adalah.............
a. pendidikan untuk anak usia 4 – 6 tahun
b. pendidikan yang ditujukan kepada anak-anak yang kurang mampu
c. pendidikan untuk anak usia 2 – 4 tahun dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
d. Tidak ada jawaban yang benar

2. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya, sesuai dengan.............
a. pembukaan UUD 1945
b. amandemen UUD 1945
c. UU nomor 23 tahun 2002
d. UU nomor 20 tahun 2003

3. Pendidikan Anak Usia Dini dapat diselenggarakan pada………
a. jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal
b. Taman Penitipan Anak, Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain, dan Satuan PAUD Sejenis
c. jawaban a dan b benar
d. jawaban a dan b salah
4. Anak harus aktif dalam menolong atau mendidik dirinya sendiri dan perkembangan anak berlangsung secara teratur, maju setahap demi setahap, menurut……………
a. Montessori
b. Jean Piaget
c. Pestalozzi 37
d. Froebel
5. Perkembangan anak terdapat masa peka, yang ditandai dengan begitu tertariknya anak terhadap suatu objek atau karakteristik tertentu sehingga cenderung mengabaikan objek yang lainnya, menurut…………
a. Montessori
b. Jean Piaget
c. Pestalozzi
d. Froebel
6. Seorang ibu dapat menjamin pendidikan anaknya secara alamiah, dalam mendidik anak orang tua perlu member kebebasan pada anak agar mereka dapat berkembang secara alamiah, menurut………
a. Montessori
b. Rousseau
c. Pestalozzi
d. Froebel
7. Anak adalah makhluk belajar yang aktif yang dapat mengkreasi/mencipta dan membangun pengetahuannya sendiri, menurut………
a. Montessori
b. Jean Piaget
c. Pestalozzi
d. Froebel
8. Anak harus dibiasakan untuk mencari serta menemukan sendiri berbagai nilai pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan pikiran dan kemampuannya sendiri, menurut………..
a. Montessori
b. Jean Piaget
c. Ki Hajar Dewantara
d. Froebel 38

9. Menurut Maslow kebutuhan anak yang sangat mendasar adalah………
a. Rasa dimiliki dan disayang
b. merasa aman, terlindung dan bebas dari bahaya
c. lapar dan haus
d. berprestasi, mampu, disetujui

10. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan anak usia dini, dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan, dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak dapat……….
a. berekplorasi (penjajagan)
b. menemukan
c. memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.
d. semua jawaban benar 39

DAFTAR PUSTAKA
Masitoh dkk. (2005) Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: 2005.
Patmonodewo, Soemiarti. (2003) Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Siti Aisyah dkk. (2007) Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sujiono, Yuliani Nurani. (2009) Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Visimedia
Hildebrand, Verna (1986), Introduction to Early Childhood Education 4th ed. New York: Mac Millan Publishing Company
Mayke S. Teja Saputra. (2001). Bermain, Mainan dan Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: Grasindo
Wolfgang, Charles H. and Mary E. Wolfgang. (1992). School for Young Children. Boston: Allyn and Bacon 40
Kunci Jawaban
1. d
2. c
3. c
4. c
5. a
6. b
7. b
8. c
9. c
10. d

ETIKA DAN KARAKTER PENDIDIK PAUD

BAB I  PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan salah satu elemen primer dalam kehidupan manusia di masa modern. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha memanusiakan manusia. Paulo Freire, seperti yang dikutip Yunus (1), melihat pendidikan sebagai salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan, sampai ketertinggalan. Pendidikan, sebagai suatu usaha yang disengaja dan sistematis, tidak semata-mata terbatas sekat ruang sekolah formal namun juga nonformal dan dimulai sejak usia dini. Semakin tingginya kesadaran orang tua dan pemerhati pendidikan mendorong terbentuknya suatu wadah pendidikan anak usia dini (PAUD) yang bergerak hingga ke masyarakat akar rumput.
Untuk suatu upaya pendidikan berjalan dengan baik diperlukan beberapa elemen, tidak terkecuali dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) dimana salah satu elemen yang penting keberadaannya adalah pendidik. Pendidik, menurut Zahara Idris dan Lisma Jamal, adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan (mampu berdiri sendiri) memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu yang mandiri, dan makhluk sosial. Peran mereka terutama nampak dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah, yaitu mentransformasikan kebudayaan secara terorganisasi demi perkembangan peserta didik (siswa). Khususnya dalam pendidikan anak usia dini, pendidik sangat memegang peran sentral sebagai role model peserta didiknya. Mengutip Diaz, pendidik sebagai model harus dapat menunjukkan:
- Guru sebagai ahli di bidangnya
- Guru sebagai contoh pembentukan moral
- Guru sebagai orang yang memiliki kepedulian dan melakukan tindakan
- Guru sebagai figur pemimpin yang memiliki otoritas
- Guru sebagai fasilitator yang selalu siap membantu siswanya
- Guru sebagai delegator
Sebagai seorang pendidik, guru, termasuk guru PAUD, semestinya memahami hakikat pendidik. T. Raka Joni (dalam Idris dan Jamal) menyebutkan beberapa poin terkait hakikat pendidik :
1) Pendidik sebagai agen pembaharuan, artinya ide-ide pembaharuan itu dapat disebarluaskan oleh pendidik dan lebih jauh lagi pendidik adalah sumber dari ide-ide pembaharuan
2) Pendidik adalah pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat, maksudnya pendidik itu harus lebih dahulu menjadi orang yang menghayati dan mengamalkan nilai-nilai masyarakat. Lebih jauh lagi, pendidik diharapkan dapat melanjutkan nilai-nilai tersebut kepada subjek didiknya, dan masyarakat pada umumnya.
3) Pendidik sebagai fasilitator memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi peserta didik untuk belajar. Misalnya dalam proses belajar-mengajar peserta didiklah yang aktif belajar, peranan pendidik menyediakan sumber, bahan, dan media yang diperlukan dalam kegiatan tersebut.
4) Pendidik bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar peserta didik.
5) Pendidik dituntut untuk menjadi contoh dalam pengelolaan proses belajar-mengajar khususnya bagi calon guru yang menjadi peserta didik.
6) Pendidik bertanggung jawab secara profesional untuk terus-menerus meningkatkan kemampuannya. Ini berarti bahwa pendidik adalah pribadi yang selalu harus belajar.
7) Pendidik menjunjung tinggi kode etik profesional. Bahwa guru sebagai jabatan profesional tentunya mempunyai kode etik yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
Terkait dengan poin-poin di atas maka dapat kita bayangkan betapa guru atau pendidik menjadi tokoh yang memiliki peran penting terutama dalam pendidikan anak usia dini dimana peran orang dewasa sebagai role model masih sangat dibutuhkan. Pendidikan anak usia dini perlu penanganan yang khas dibandingkan dengan pendidikan lainnya karena anak usia dini memiliki karakteristik perkembangan dan cara belajar yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih tua, sehingga memerlukan bimbingan yang khas pula. Untuk itu, seorang pendidik PAUD penting untuk memiliki pengetahuan dan kapasitas etika maupun karakter yang positif sehingga dalam melaksanakan tugas, para pendidik dapat memberikan contoh positif bagi anak didiknya. Hal ini tentunya akan menghasilkan peserta didik yang potensinya berkembang secara optimal serta beretika dan berkarakter positif yang siap bersosialisasi dengan anggota masyarakat lain dalam interaksinya sehari-hari serta.

B. TUJUAN
Materi dan modul ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan bagi pendidik PAUD terkait konsep etika dan karakter sehingga nantinya pendidik PAUD dapat mengaplikasikan dalam proses pembelajaran yang dilakukan.

C. RUANG LINGKUP DAN WAKTU
Ruang lingkup materi mencakup etika dan karakter yang dimiliki oleh pendidik PAUD yang diberikan dalam waktu 4 JP (180 menit).

D. PETUNJUK BELAJAR
Peserta diklat membaca modul, melakukan diskusi dan tanya-jawab, serta mengerjakan tugas-tugas yang telah disiapkan

BAB II RENCANA PENYAJIAN MATERI

A. KOMPETENSI
Kompetensi yang diharapkan dari materi ini adalah peserta didik dapat memahami etika dan karakter pendidik PAUD.

B. INDIKATOR
1. Peserta dapat menjelaskan konsep etika dan etika pendidik PAUD
2. Peserta dapat menjelaskan pentingnya etika pendidik dalam proses pembelajaran di PAUD
3. Peserta dapat menjelaskan konsep karakter dan karakter pendidik PAUD
4. Peserta dapat mengaplikasikan etika dan karakter dalam pembelajaran di PAUD.
C. MATERI/SUBMATERI
Materi yang akan dibahas dalam modul ini adalah :
1) Etika
a. Definisi etika
b. Manfaat Etika Bagi Pendidik PAUD
c. Kode Etik dan Etika Pendidik PAUD
2) Karakter
a. Definisi karakter
b. Faktor-Faktor Yang Membentuk Karakter
c. Karakter dan Citra Diri Pendidik

D. METODE PEMBELAJARAN
Metode pembelajaran yang akan dilakukan dalam penyajian materi ini adalah:
1) Ceramah
2) Tanya jawab
3) Diskusi kelompok
4) Aktivitas lain (menonton film, analisis kasus dari media massa)

E. PENILAIAN
Penilaian akan dilakukan melalui evaluasi pre-test dan Post test yang berbentuk soal pilihan berganda (multiple choice)

F. ALOKASI WAKTU
4 jam pelajaran atau 180 menit

G. SUMBER BELAJAR
Modul, pustaka acuan, film, contoh kasus
H. MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran yang digunakan dalam penyajian materi ini adalah :
1) Modul
2) Slide dan OHP
3) Film
4) Kliping artikel media massa (surat kabar)

BAB III  MATERI
A. URAIAN MATERI
1. ETIKA
a. Pengertian
Etika berasal dari bahasa Yunani, “ethos”, yang berarti “timbul dari kebiasaan”. Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standard dan penilaian moral. Etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan. Etika biasanya sering diasumsikan bersinonim atau memiliki kesamaan dengan moral. Moral atau moralitas biasanya dikaitkan dengan sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia. Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasehat, peraturan, perintah, dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik.
Berbeda dengan moralitas, etika perlu dipahami sebagai sebuah cabang filsafat yang bicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Nilai adalah sesuatu yang berguna bagi seseorang atau kelompok dan karena itu orang atau kelompok tersebut selalu berusaha untuk mencapainya karena pencapaiannya sangat memberi makna kepada diri serta seluruh hidupnya. Norma adalah aturan atau kaidah dari perilaku dan tindakan manusia.

b. Manfaat Etika Bagi Pendidik Menurut Suseno, ada empat alasan mengapa manusia perlu beretika: Pertama, kita hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistik. Perlu kesatuan tatanan normatif. Kedua, kita hidup dalam masa transformasi masyarakat yang sangat cepat. Dalam transformasi ekonomi, sosial, intelektual, dan budaya itu nilai budaya tradisional tertantang. Perubahan-perubahan budaya terjadi begitu cepat akibat modernisasi. Dalam situasi seperti ini, etika membantu kita agar jangan kehilangan orientasi, dapat membedakan antara yang hakiki dan apa yang boleh berubah dan dengan demikian tetap sanggup untuk mengambil sikap yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, dengan etika kita dapat menghadapi ideologi-ideologi baru dengan kritis dan objektif untuk membentuk penilaian sendiri, agar kita tidak mudah terpancing. Etika juga membantu agar kita jangan naif atau ekstrem, tidak cepat bereaksi, terhadap suatu pandangan baru, menolak nilai-nilai hanya karena baru dan belum biasa. Keempat, etika juga perlu oleh agama untuk memantabkan pemeluknya dalam keyakinan dan keimanan. Dengan memperhatikan manfaat etika, diharapkan peran pendidik di manapun, dalam situasi apapun keberadaannya tetaplah sebagai pembimbing, pembina perilaku, dan sekaligus model berperilaku manusia beretika. Karena ini bagian dari tanggung jawab sebagai pendidik. Pendidik yang sukses adalah guru yang tidak hanya kaya secara materi namun juga kaya dalam nilai-nilai moral dan spiritualnya. Pendidik yang cerdas mampu memberdayakan
segala kualitas positif dalam dirinya berhak untuk mengukirkan nasibnya sesuai dengan yang diimpikan. Sebutir telur elang dieramkan dalam sarang ayam hutan. Telur menetas, dan elang kecil tumbuh dan menganggap dirinya adalah anak ayam hutan. Anak elang berperilaku sebagaimana anak ayam hutan. Ia mengais-ngais tanah untuk mencari makan. Ia berkotek dan berkokok, ia tidak pernah terbang lebih dari beberapa meter, karena seperti itulah tabiat ayam hutan. Suatu hari ia melihat burung elang sedang terbang dengan anggun dan agung di langit bebas. Ia bertanya kepada induk ayam hutan: ’Burung apakah yang cantik itu?’ Induk Ayam hutan menjawab: “Itu adalah seekor elang, ia burung yang terkenal, tetapi kamu tidak bisa terbang seperti dia karena kamu hanyalah seekor ayam hutan”. Anak elang percaya saja dengan cerita itu karena dianggapnya benar. Ia jalani hidupnya, dan mati sebagai seekor ayam hutan, dan kehilangan warisannya sebagai seekor elang, karena tidak mempunyai visi sendiri. Alangkah sia-sia. Ia dilahirkan untuk menang tetapi ia dikondisikan untuk kalah. (Qomari Anwar, diunduh dari hadipranaabadi.weebly.com)
Bayangkan… andai induk ayam hutan adalah guru, dan sang elang kecil adalah siswa
c. Kode Etik dan Etika Pendidik PAUD Kode etik merupakan bagian dari perilaku dan pengetahuan yang sangat penting untuk diketahui, dipahami, dan diterapkan oleh pendidik. Kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi di dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Sehingga dengan kata lain, kode etik profesi memberi panduan pada individu-individu dengan profesi terkait, dalam hal ini pendidik, mengenai apa yang boleh mereka laksanakan atau larangan yang sebaiknya mereka hindari. Seorang guru akan mengetahui tentang aturan-aturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam melaksanakan profesinya sebagai seorang guru.
Tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi profesi itu sendiri. Keberadaan kode etik profesi pendidik bertujuan untuk :
1) menjunjung tinggi martabat profesi
2) menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota
3) meningkatkan pengabdian para anggota profesi
4) meningkatkan mutu profesi
5) meningkatkan mutu organisasi profesi
Kode etik disusun biasanya menyesuaikan konteks lokal dimana setiap region biasanya memodifikasi kode etik profesi mereka sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di region tersebut walaupun tetap ada prinsip-prinsip umum yang teguh dipegang dan berlaku universal di berbagai wilayah. Pada umumnya, kode etik pendidik bersumber dari:
1) nilai-nilai agama dan Pancasila
2) nilai-nilai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional
3) nilai-nilai jati diri, harkat dan martabat manusia yang meliputi perkembangan jasmaniah, emosional, sosial, dan spiritual.
Kode etik guru/pendidik Indonesia dapat dirumuskan sebagai himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru yang tersusun dengan baik dan sistematis dalam suatu sistem yang utuh dan bulat. Fungsi kode etik guru Indonesia adalah sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap guru warga PGRI dalam menunaikan tugas pengabdiannya sebagai guru, baik di dalam maupun di luar sekolah serta dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Ada beberapa butir mengenai kode etik guru Indonesia, antara lain : 1) berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya berjiwa Pancasila. 2) memiliki dan melaksanakan kejuruan profesional. 3) berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan. 4) menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar. 5) memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
6) secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat prosesinya. Kode Etik Guru Indonesia ditetapkan dalam kongres PGRI ke XIII tahun 1973, dan kemudian disempurnakan dalam Kongres PGRI ke XVI tahun 1989. Berikut penjabarannya (Djumiran, http://pjjpgsd.dikti.go.id) 1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. a. Guru menghormati hak individu, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari anak didiknya masing – masing. b. Guru menghormati dan membimbing kepribadian anak didiknya. c. Guru menyadari bahwa intelegensi, moral dan jasmani adalah tujuan utama pendidikan. d. Guru melatih anak didik memecahkan masalah-masalah dan membina daya kreasinya agar dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun e. Guru membantu sekolah dalam usaha menanamkan pengetahuan, keterampilan kepada anak didik.
Ilustrasi Kasus : Tasya mengolok-olok temannya, Sita, yang mengenakan jilbab ke sekolah. Tasya mengatakan Sita seperti nenek-nenek karena mengenakan jilbab. Kebetulan saat itu Pak Wawan, salah seorang guru, melihat kejadian tersebut. Pak Wawan pun menghampiri Sita dan Tasya lalu menjelaskan kepada Tasya mengenai jilbab secara sederhana serta meminta Tasya untuk minta maaf pada Sita. 2. Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik masing masing a. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing masing. b. Guru hendaknya fleksibel di dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing masing. c. Guru memberi pelajaran didalam dan diluar sekolah berdasarkan kurikulum dan berlaku secara baik tanpa membedakan jenis dan posisi sosial orang tua murid.
Ilustrasi kasus : Di kelas Ibu Rosa, ada seorang murid bernama Afika yang sangat menyukai musik namun membenci berhitung. Untuk mengakali Afika agar senang berhitung akhirnya Ibu Rosa memperkenalkan angka dan mengajari berhitung kepada Afika melalui nyanyian dan permainan alat musik sehingga akhirnya Afika mulai menguasai materi berhitung. Bagaimana pendapat Anda terhadap sikap Ibu Rosa? Apakah Anda pernah memiliki pengalaman serupa? 3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala penyalahgunaan. a. Komunikasi guru dan anak didik didalam dan diluar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang. b. Untuk berhasilnya pendidikan, guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluarganya. c. Komunikasi hanya diadakan semat-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik.
Ilustrasi kasus : Nanda akhir-akhir ini tidak bersemangat untuk mengikuti kegiatan belajar dan bermain dengan teman-temannya. Bahkan dalam satu minggu ini Nanda sudah tiga kali tidak masuk sekolah. Ibu Mirna, sebagai guru di PAUD tempat Nanda bersekolah, alih-alih melakukan pendekatan dan menanyakan masalah kepada Nanda, Ibu Mirna malah mengatakan Nanda sebagai siswa pemalas dan sombong.
2. KARAKTER
a. Pengertian Karakter
Etika membantu individu untuk dapat bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Pengetahuan atas etika yang diaplikasikan secara berkelanjutan, terus-menerus melalui proses pembiasaan dapat menumbuhkan suatu kualitas tersendiri yang dapat membedakan antara individu
Sikap guru yang menghargai anak ditunjukkan dengan komunikasi dan relasi yang baik dapat membantu kelancaran proses pendidikan yang berlangsung
dengan individu lainnya atau dikenal juga dengan karakter. Karakter, jika dikaitkan dengan etika, merupakan kecakapan khusus yang didukung oleh kesadaran moral, perasaan moral, dan tindakan moral.
2. KATAKTER
a. Pengertian
Karakter adalah evaluasi kualitas tahan lama individu tertentu. Konsep karakter dapat menyiratkan berbagai atribut termasuk keberadaan atau kurangnya kebajikan seperti perilaku integritas, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan. Karakter terutama mengacu pada kumpulan kualitas yang membedakan satu orang dari yang lain. Menurut Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), karakter didefinisikan sebagai bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, temperamen, watak. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Selain itu, karakter, khususnya karakter yang baik, tidak berdiri sendiri melainkan merupakan suatu rangkaian dari perbuatan yang tidak hanya ditujukan kepada diri sendiri melainkan juga perbuatan yang berhubungan dengan orang lain seperti yang dikatakan Aristoteles, seorang filsuf Yunani :
“Karakter yang baik merupakan : perbuatan yang benar dalam hidup, berbuat benar dalam hubungan dengan orang lain, berbuat benar terhadap diri sendiri”
–Aristoteles-
Individu yang tidak jujur, kejam, rakus, dan berperilaku negatif akan digolongkan sebagai individu yang memiliki karakter buruk atau negatif. Sebaliknya, individu yang berperilaku sesuai kaidah moral digolongkan sebagai individu dengan karakter positif. Individu yang berkarakter baik atau positif adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya sendiri, sesama manusia, dan lingkungannya dengan mengoptimalkan potensi dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi, dan motivasinya (perasaannya). Karakter positif berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, kreatif dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, jujur, pemaaf, menepati janji, dan kualitas positif lainnya.
Karakter bukanlah sesuatu yang sepenuhnya bersifat genetik atau turunan sehingga untuk membentuk karakter harus melalui proses pembelajaran dan pembiasaan atau pelatihan secara terus menenerus. Terkait dengan karakter maka yang dilatih dan dibentuk adalah kebiasaan dalam berpikir, merasa, dan senantiasa berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja untuk membentuk karakter jujur pada individu maka sejak dini seseorang harus dibiasakan untuk berkata dan bertingkahlaku jujur dengan membiasakan diri tidak mencontek pekerjaan orang lain atau mengakui kesalahan yang dilakukan.
b. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter
Menjadi pendidik PAUD yang berkarakter merupakan hal yang penting. Karakter menunjukkan siapa kita sebenarnya dan menentukan bagaimana seseorang membuat keputusan
Karakter juga menentukan sikap, perkataan, dan tindakan seseorang dimana hal-hal tersebut dapat membantu untuk mencapai kesuksesan. Pembentukan karakter individu pada umumnya melalui berbagai proses dimana banyak faktor yang berperan selama proses pembentukan karakter berlangsung. Karakter terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa.
V. Campbell dan R. Obligasi (1982) menyatakan ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang :
1) Faktor keturunan
2) Pengalaman masa kanak-kanak
3) Pemodelan oleh orang dewasa atau orang yang lebih tua
4) Pengaruh lingkungan sebaya
5) Lingkungan fisik dan sosial
6) Subtansi materi di sekolah atau lembaga pendidikan lain
7) Media massa
Untuk mengembangkan karakter yang baik perlu ada suatu penentuan dan pendefinisian kualitas karakter yang akan ditanamkan sehingga dapat dimengerti oleh semua orang antara lain dengan memberikan ilustrasi-ilustrasi atau aktivitas.
Dalam proses pembentukan karakter yang baik perlu adanya kontrol internal dan kontrol sosial yang menuntut
individu untuk memiliki karakter positif tertentu. Misalnya saja sebagai pendidik (guru) dalam suatu komunitas pendidikan, seperti PAUD, dibutuhkan karakter seperti jujur, perhatian, sabar, dan karakter positif lain sebab pendidik dalam komunitas pendidikan berperan sebagai teladan dan model bagi anak didiknya.
Selain pendefinisian yang jelas mengenai kualitas karakter yang diinginkan serta adanya kontrol internal dan kontrol sosial, dalam pembentukan karakter, khususnya karakter yang baik atau positif, diperlukan reinforcement atau penguatan dari luar (eksternal) melalui bentuk-bentuk penghargaan terhadap karakter baik yang ditunjukkan. Penghargaan yang ditunjukkan dapat berupa pujian atau hadiah (reward) tertentu. Seorang pimpinan dalam PAUD, misalnya, dapat memuji pendidik-pendidik PAUD yang mengajar di tempatnya atas karakter baik yang ditunjukkan seperti, “wah,saya perhatikan Ibu Yuni selalu tepat waktu datang ke sekolah. Bagus sekali itu. Pertahankan terus ya, Bu”. Pujian-pujian yang diberikan, terutama di depan publik, atau reward dalam bentuk lain walaupun sifatnya sederhana namun apabila diberikan terus-menerus akan membentuk pemahaman dan keyakinan pada individu mengenai karakter baik sehingga karakter tersebut akan terus dilakukan.
Karakter merupakan salah satu poin penting yang menentukan keberhasilan seseorang. Temuan dari Universitas Harvard, 85% dari sebab-sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain-lain, adalah karena sikap-sikap seseorang. Hanya 15% disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimilikinya. Oleh sebab itu, terkait
upaya membangun karakter positif, khususnya karakter dalam diri pendidik, disusunlah 16 pilar pembangun karakter :
1) Kasih sayang
2) Penghargaan
3) Pemberian ruang untuk pengembangan diri
4) Kepercayaan
5) Kerja sama
6) Saling berbagi
7) Saling memotivasi
8) Saling mendengarkan
9) Saling berinteraksi secara positif
10) Saling menanamkan nilai-nilai moral
11) Saling mengingatkan dengan ketulusan hati
12) Saling menularkan antusiasme
13) Saling menggali potensi diri
14) Saling mengajari dengan kerendahan hati
15) Saling menginspirasi
16) Saling menghormati perbedaan
Bercerita dan berdiskusi dengan anak-anak menunjukkan guru memiliki karakter yang positif, yaitu saling mendengarkan
dan saling menginspirasi.
c. Karakter dan Citra Diri Pendidik
Pendidikan menjadi sarana untuk mentransfer nilai dan norma di dalam masyarakat. Setiap masyarakat mempunyai norma dan nilai, melalui pendidikan diusahakan agar individu menjadi pendukung norma kaidah dan nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dan menjadi milik pribadi yang tercermin dalam kehidupannya sehari-hari. Pendidikan juga merupakan proses pembentukan pribadi secara utuh, dimana proses pendidikan berlangsung secara sistematis dan sistemik. Sistematis berarti berlangsung bertahap dan berkesinambungan sedangkan sistemik berarti berlangsung pada semua situasi lingkungan dan sistem baik keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara yang melembaga.
Karakteristik pendidik adalah sebagai 1) seseorang yang dituntut untuk komitmen terhadap profesinya, orang yang selalu berusaha memperbaiki dan memperbarui cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zaman 2) seseorang yang memiliki ilmu, yang mampu menangkap hakikat sesuatu, orang yang mampu menjelaskan hakikat dalam pengetahuan yang diajarkannya 3) seseorang yang kreatif, yang mampu menyiapkan peserta didiknya agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat, dan alam sekitar, 4) seseorang yang berusaha menularkan penghayatan akhlak atau kepribadian kepada peserta didiknya, 5) seseorang yang berusaha mencerdaskan peserta didiknya, melatihkan berbagai keterampilan mereka sesuai bakat, minat, dan kemampuan 6) seseorang yang beradab.
Seorang pendidik anak usia dini, menurut Megawangi (2005), perlu memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Menanamkan Kebaikan Tanpa Pamrih
Seorang pendidik walaupun telah berusaha menjadi pendidik yang ideal, tetapi belum menjamin akan berhasil dalam membantu perkembangan anak, karena banyak faktor lain yang mempengaruhinya, misalnya pendidikan di rumah, pengaruh kawan, dan sebagainya. Namun dengan memberikan layanan pendidikan dan bimbingan yang penuh perhatian, kasih sayang, siswa akan menjadi lebih baik. Lebih-lebih pada pendidikan anak usia dini, hasil pendidikan tidak akan segera nampak hasilnya. Ada sebuah teori yang disebut sleeper effect, yang menyatakan bahwa efek pendidikan, hasilnya baru terlihat beberapa tahun kemudian. Oleh karena itu satu karakter penting untuk dimiliki pendidik adalah “mendidik (menanam kebaikan) tanpa pamrih”
Ada sebuah kisah tentang Johny Appleseed, mudah-mudahan cerita ini dapat memberikan inspirasi pada semua pendidik untuk menebarkan benih kebajikan walapun tidak tahu bagaimana hasilnya nanti:
Alkisah ada seorang bernama Johny yang senang berkelana. Ia selalu mengantongi segenggam biji apel dikantongnya. Kemanapun ia pergi, ia selalu menebar biji apel, sehingga ia terkenal dengan Johny Appleseed. Ia tidak berpikir apakah benih yang ditebarkan akan tumbuh dan ia juga tidak berniat menikmati buahnya, atau berteduh di bawahnya. Apa yang dilakukan Johny the Appleseed ternyata menumbuhkan beribu-ribu pohon apel yang mana Johny tidak bisa melihat hasilnya.
Ada sebuah teori yang dapat memberikan inspirasi mengenai dampak berkelanjutan dari menanam sebuah kebajikan, walau sekecil apapun, yaitu Chaos Theory (Teori Chaos) dari James Gleick, yang mengenalkan konsep efek kupu-kupu (Butterfly effect) yang berbunyi : seekor kupu-kupu yang mengepakkan udara dengan sayapnya hari ini di Beijing, dapat menyebabkan tornado di New York tahun depan. Konsep ini mengajarkan kepada kita bahwa sekecil apapun tindakan sekarang, akan mempunyai dampak besar di kemudian hari. Konsep ini memberikan peringatan kepada kita untuk berhati-hati dalam berpikir, berkata dan bertindak, karena kita tidak dapat memprediksi bagaimana dampak hebatnya di masa depan.
Dalam Chaos Theory diterangkan mengapa sebuah kepakan sayap kupu-kupu bisa membentuk pola (pattern) yang khas. Pernahkan kita bayangkan mengapa Austria melahirkan orang-orang jenius dan kreatif, seperti para komposer dunia John Strauss, Mozart, Schubert dan Mahler.
Psikolog Sigmud Freud, Ekonom Loudwig atau negara Singapura bebas korupsi, atau warga Korea di Seoul yang turun ke jalan berpesta pora merayakan kemenangan tim sepak bolanya masuk ke final, tetapi tidak membuat satu pohonpun patah, tidak ada satu pot bungapun rusak, dan tidak ada satu pun botol minuman yang tergeletak di jalan.
Terbentuknya sebuah pola dalam Chaos Theory diterangkan oleh adanya sebuah konsep : Strange attractor yaitu magnet yang dapat menarik apa saja yang mempunyai kualitas yang sama. Hal ini dapat diilustrasikan, misalnya :
Adanya kerumunan burung dari berbagai jenis yang sedang makan biji-bijian yang tersebar di atas tanah. Tiba-tiba ada sebuah kejutan yang menyebabkan semua burung beterbangan. Sudah dapat dipastikan bahwa burung akan terbang bersama burung-burung lainnya yang sejenis dan tidak pernah masuk dalam kelompok burung lain.
Adanya daya tarik yang aneh (strange attractor) dalam sebuah sistem sosial akan menjadi daya tarik bagi mereka yang memang pada prinsipnya mempunyai kualitas yang sama dengan daya tarik itu. Semakin banyak orang tertarik dan berkumpul dalam kerumunan sistem itu, maka akan membentuk sebuah pola dengan ciri khas perilakunya. Sebuah organisasi yang korup, akan menarik orang-orang yang tidak jujur karena tertarik oleh daya magnet perilaku korup. Begitu pula organisasi yang baik bisa menjadi magnet yang dapat menarik orang-orang baik untuk berkumpul bersama melakukan kebajikan. Namun mungkin saja dalam suatu kerumunan baik akan terdapat beberapa orang yang
tidak baik, begitu pula sebaliknya, karena disebut teori chaos atau teori kekacauan.
Biasanya orang-orang yang baik dalam kerumunan jahat suatu saat akan terlempar dari sistem sosial yang ada sekarang karena mereka tidak tahan hidup di tengah–tengah kerumunan orang yang pola tingkahlakunya bertentangan dengan hati nuraninya. Begitu pula orang-orang tidak baik berada dalam kerumunan orang baik suatu saat akan terlempar keluar.
Orang-orang yang baik terlempar dari kerumunan buruk adalah mereka yang mempunyai lentera hati nurani yang terang benderang sehingga dapat menjadi strange attractor baru yang dapat menarik orang yang berkepribadian sama. Selanjutnya dapat mengubah sistem sosial yang ada menjadi pola baru yang positif. Begitu pula, para pendidik yang mempunyai nurani yang kuat, akan tidak tahan berada dalam sebuah birokrasi pendidikan yang buruk, sehingga akan terlempar dari sistem tersebut, dan berani untuk memulai suatu yang berbeda dan mau mengadakan “perubahan” siapa tahu para pendidik yang menyadari fungsinya sebagai “pendidik, membangun citra positif anak” akan berkumpul bersama bahu membahu membentuk karakter anak didiknya.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa, pendidik anak usia dini dalam melaksanakan tugasnya senantiasa mengedepankan kode etik “menanam kebaikan tanpa pamrih mencintai anak”, dengan asah, asih, dan asuh, mendidik dan mengasuh dengan kasih sayang semata karena amanah Tuhan Yang Maha Kuasa.
2. Membangun Citra Diri Positif Anak
Banyak perilaku guru yang dapat membunuh karakter anak, yaitu dengan membuat anak merasa rendah diri. Seorang guru yang tidak pernah memberi pujian atau kata-kata positif, kecuali cemoohan dan kata-kata negatif akan memuat muridnya menjadi tidak percaya diri. Rasa tidak percaya diri yang telah terbentuk sejak anak usia dini akan terbawa sampai dewasa.
Peran guru dalam membangun citra diri yang positif pada anak sangat besar, sehingga sebuah sekolah dasar di Medford Massachusetts yang bernama Dame School, membuat kebijakan untuk membangun citra diri positif kepada murid-muridnya.
Kisah Dame School, menyatakan bahwa seluruh murid sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 3, tidak boleh diberikan nilai angka atau huruf di rapornya, tetapi hanya berupa uraian consisten dan not consisten, berbeda dengan di Indonesia rapor anak diisi dengan angka, bahkan diberi peringkat atau ranking. Menurut mereka, kalau seorang anak usia di bawah 9 tahun diberikan nilai (baik dan buruk), maka akan “memvonis” anak; pintar, sedang dan bodoh. Padahal anak-anak pada usia itu masih terus berkembang kemampuannya. Baru nanti ketika anak sudah kelas empat SD, ilai mulai diberikan, tetapi ranking tetap tidak diberikan.
Hasil Kerja harian murid-murid cukup diberikan “nilai” dengan gambar stiker (bintang, bunga atau mobil ) atau dengan tulisan gurunya yang berbunyi : good dan good effort. Ternyata dengan cara ini, anak-anak bersemangat untuk mengerjakan tugasnya dengan baik, karena setelah
selesai guru akan menempelkan stiker di lembaran bukunya. Dalam memeriksa hasil kerja, guru tidak mencoretr hasil kerja anak yang salah, tetapi dengan membetulkannya dengan cara menuliskan jawaban yang benar di samping hasil kerja anak yang salah.
Murid-murid didorong untuk aktif berdiskusi, dan guru selalu memberi komentar positif kepada setiap pendapat yang dilontarkan kepada anak. Dengan carta ini murid-murid menjadi bersemangat un tuk tetap masuk sekolah. Bahkan anak bertekad untuk tetap masuk sekolah walaupun suhu badannya panas tinggi.
Di Dame school, waktu libur panjang adalah waktu yang membosankan, tetapi waktu sekolah adalah waktu yang menyenangkan. Anak-anak begitu mencintasi sekolahnya, karena gurunya telah berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan yang membuat anak-anak antusias untuk belajar. Kalau anak senang hatinya, maka bagian limbik otaknya akan terbuka, sehingga anak dengan mudah menyerap pelajaran yang diberikan.
Keadaan belajar di Dame School terasa berbeda dengan keadaan belajar di Indonesia. Guru di Indonesia cenderung jarang memberikan pujian kepada anak, tetapi lebih banyak mengkritik dan memarahi anak. Hal ini menjadi salah satu faktor yang sering menjadi penyebab seorang anak tidak percaya diri adalah ketika di kelas ia tidak dapat menjawab pertanyaan atau ketika maju ke depan papan tulis untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Banyak guru yang bersikap negatif ketika mendapatkan muridnya tidak dapat menjawab pertanyaan, misalnya dengan perkataan : “itu
salah, kamu pasti tidak belajar ya?“ atau “lihat anak-anak, betul tidak jawaban Rika?”. Seharusnya reaksi guru adalah “jawabannya belum lengkap, mungkin ada jawaban yang lain?” atau “jalannya sudah hampir benar, tetapi coba kamu ulangi lagi, mungkin ada jawaban yang kamu lupakan” atau “Ana, nanti kamu duduk sama Shella dan kamu berdua dapat memecahkan soal itu ?”
Sering guru mempermalukan anak di depan kelas, memarahi atau bahkan menghukumnya. Kita semua pasti pernah melihat atau mempunyai pengalaman tentang sikap guru yang seperti itu. Sekali anak dipermalukan, ia kan takut, gemetaran ketika harus menjawa pertanyaan guru, sehingga ia menjadi tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya di depan kelas. Sejak anak kecil juga sudah divonis dengan diberikan ranking atau dengan istilah “mendapat ranking sepuluh besar” atau “tidak masuk ranking.”
Sikap guru yang demikian, memang bukan hanya kesalahan guru saja, tetapi adalah kesalahan sebuah sistem pendidikan yang orientasinya hanya semata-mata mengejar keberhasilan akademik, yaitu sistem mengejar target kurikulum dengan segenap tes harian, ulangan umum, ujian akhir. Padahal untuk anak usia dini, yang terpenting ditanamkan adalah sikap agar anak-anak cinta belajar. Bukan semata-mata harus bisa karena kalau “harus” bisa, suasana belajar menjadi penuh beban, sehingga otak limbik anak tertutup, akhirnya anak tidak dapat mencapai potensi optimalnya.
Di dalam ilustrasi ini, dikandung bahwa seorang guru perlu menampilkan etika membangun citra positif anak melalui perilaku-perilaku : santun, tulus, mencintai anak, memberikan pujian dan menciptakan kesenangan anak dengan melabel atau memberi cap negatif anak.
3. Guru sebagai Model/Tokoh Idola Anak
Seorang filosof Yunani, Aesop, menulis didalam dongengnya sebuah kisah yang menarik, yakni seekor kepiting. Ceritanya sebagai berikut :
Suatu hari seekor kepiting bertanya kepada anaknya “mengapa kamu berjalan menyamping seperti itu anakku? Seharusnya kamu berjalan lurus kedepan “ Anak kepiting menjawab “ tunjukkkan bagaiman dulu carannya bu…, nanti aku akanmenirunya. Kepiting tua berusaha mencontohkan bagaimana berjalan lurus, tetapi tidak berhasil.
Kisah diatas menggambarkan betapa seringnya kita sebagai pendidik mengkritik dan menyalahi perilaku anak kita. Padahal perilaku adalah hasil dari proses sosialisasi dan pendidikan yang diberikan dari lingkungannya, terutama dari orang tua atau pendidik. Seseorang telah menceritakan tentang pengalamannya dengan seorang guru, yang bernama Muhayaidden, bahwa ia telah meminta nasehat bagaimana mendidik anaknya agar menjadi anak yang baik dan beraklak mulia. Sang guru tidak memberikan jawaban yang panjang dan berteori, tetapi hanya dengan “perbaiki
saja diri kamu dulu, nanti dengan sendirinya anak kamu akan menjadi baik “.Thomas Lickona mengatakan bahwa “values are caught“, nilai-nilai yang ditangkap anak adalah melalui contoh dari guru dan orang tuanya. Nilai-nilai adalah yang diterangkan langsung oleh gurunya.
Menjadi pendidik PAUD tidak cukup hanya berbekal kurikulum atau Acuan Pembelajaran Menu Generik, tetapi juga menyangkut bagaimana guru sebagai pendidik menjadi idola bagi muridnya. Bagaiman ciri-ciri guru yang menjadi idola murid-muridnya, antara lain sebagai berikut:
(a) anak bersemangat kesekolah, anak-anak tidak sabar bersekolah dan hari-hari libur menjadi hari yang membosankan
(b) anak akan mengatakan sayang atau suka kepada gurunya kalau ditanyakan apakah mereka menyayangi gurunya,
(c) anak selalu merindukan gurunya dan
(d) anak akan mengerjakan tugas yang diberikan, karena tidak ingin mengecewakan gurunya.
Pengalaman seorang guru bernama Bill Rose, seperti diungkapkan diatas adalah salah satu bukti bagaimana seorang guru yang berusaha menumbuhkan rasa percaya diri murid-muridnya dengan penuh perhatian dan kasih sayang (etika kepribadian) sehingga membuat murid-muridnya mau bekerja keras untuk menyenangi gurunya.
Inti dari pesan dalam sub bab ini adalah bagaimana ampuhnya sosok panutan orangtua atau guru dalam mempengaruhi perilaku anak. Apabila kita ingin menjadikan
diri sebagai tokoh panutan, maka diri kita sendiri harus diperbaiki dulu.
4. Mendidik dengan Mencelupkan Diri
Seorang pendidik yang berhasil adalah yang dapat mencelupkan dirinya secara menyeluruh, pikiran, dan perasaan, dapat membangun personal dengan murid-muridnya, mempunyai kemampuan komunikasi secara efektif, mampu mengelola emosi dengan baik, mampu menghidupkan suasana yang menarik dan menyenangkan agar anak senang berjalan/bermain.
Mencelupkan diri secara total memang memerlukan sikap dan dedikasi dan kecintaan terhadap profesi yang sedang dijalani. Seorang guru yang dapat mencelupkan dirinya pada profesinya sebagai guru adalah seorang yang dapat berkontemplasi (merenungkan) perasaan, pikiran dan perilakunya secara rutin agar dapat melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya. Seorang guru bukan berarti harus sempurna, tetapi diharapkan untuk memperbaiki dan mengontrol terus tindakannya agar tetap dijadikan model konkrit bagi murid-muridnya.
Seringkali orang tidak mau menerima atau mengakui bahwa dirinya masih banyak kekurangan. Merasa dirinya sudah benar, tidak mungkin salah dan tidak ingin dikritik dan disalahkan. Menurut Carl G. Jung, setiap manusia mempunyai sisi gelap, kalau kita tidak menerima keberadaan sisi gelap tersebut, maka sifat-sifat gelap akan menjadi kekuatan yang suatu saat akan keluar dan terlihat oleh orang lain, walaupun diri kita tidak menyadarinya. Inilah
yang menyebabkan banyak manusia yang tidak konsisten antara kata dan tindakannya.
Guru yang demikian tidak dapat menjadi model bagi murid-muridnya, bahkan malah bisa menjadi berbahaya, karena kalau murid-muridnya menilai guru seringkali berkata moral, tetapi tidak dalam tindakan. Akibat negatif lain dari penolakan sisi gelap adalah ingin memarahi orang lain yang dianggap bersalah. Murid-murid biasanya akan menjadi tumpahan kemarahan guru, yang sebenarnya adalah kemarahan kepada sifat yang ada dalam diri guru sendiri, guru yang sering menyalahkan murid-murid, tidak akan menjadi pendidik yang efektif.
Oleh karena itu, seorang guru sebagai pendidik anak usia dini hendaknya terus merenung untuk melihat kekurangan dan mengevaluasi diri dan berusaha untuk terus menerus memperbaiki segala kekurangan demi membentuk citra diri guru yang positif.
Guru PAUD sebisa mungkin dapat menghidupkan suasana sehingga membuat anak tertarik untuk belajar
Citra diri guru dapat dimaksudkan sebagai gambaran tentang diri pribadi guru yang diberikan appresiasi oleh masyarakat. Penilaian yang diberikan oleh masyarakat terhadap guru bisa positif atau negatif tergantung kepada kepribadian maupun karakter yang muncul sebagai wujud profesi guru secara utuh. Citra Diri Positif (positive self-image) dapat membangun dan mempermudah karir seseorang, karena dia memandang positif kepada kemampuan diri, melihat kelebihan diri, bukan kekurangannya. Dengan berpikir positif pada diri, membuat dirinya berharga. Seseorang yang memiliki citra diri yang positif akan mendapatkan berbagai manfaat, baik yang berdampak positif bagi dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya. Manfaat-manfaat yang terasakan oleh si empunya citra diri positif dan lingkungannya tersebut adalah: 1) Guru akan membawa Perubahan Positif Guru yang memiliki citra diri positif senantiasa mempunyai inisiatif untuk menggulirkan perubahan positif bagi lingkungan tempat ia berkarya. Mereka tidak akan menunggu agar kehidupan menjadi lebih baik, sebaliknya, mereka akan melakukan perubahan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Perubahan positif tidak hanya terasakan oleh dirinya, namun juga oleh lingkungannya. 2) Mengubah Krisis Menjadi Keberuntungan Selain membawa perubahan positif, guru yang memiliki citra positif juga mampu mengubah krisis menjadi kesempatan
untuk meraih keberuntungan. Citra diri yang positif mendorong guru untuk menjadi pemenang dalam segala hal. Menurut orang-orang yang bercitra diri positif, kekalahan, kegagalan, kesulitan dan hambatan sifatnya hanya sementara. Fokus perhatian mereka tidak melulu tertuju kepada kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, melainkan fokus mereka diarahkan pada jalan keluar. Seringkali kita memandang pada pintu yang tertutup terlalu lama, sehingga kita tidak melihat bahwa ada pintu-pintu kesempatan lain yang terbuka untuk kita.
”Tanamlah pemikiran, kau akan menuai tindakan”
”Tanamlah tindakan, kau akan menuai kebiasaan”
”Tanamlah kebiasaan, kau akan menuai watak”
”Tanamlah watak, kau akan menuai cita-cita”
(Bernard Shaw)

B. RANGKUMAN MATERI
Etika sebagai ilmu tentang kesusilaan, yang menentukan bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat, yang dapat memahami apa yang baik dan yang buruk. Etika akan membantu kita untuk mencari orientasi. Tujuannya agar kita tidak hidup dengan cara ikut-ikutan. Dengan memperhatikan manfaat etika, seorang pendidik di manapun, dalam situasi apapun keberadaannya tetaplah sebagai pembimbing, pembina perilaku, dan sekaligus model berperilaku manusia beretika karena ini bagian dari tanggung jawab sebagai pendidik. Etika dapat membentuk karakter yang merupakan ketergabungan dari adanya kesadaran moral, perasaan moral, dan tindakan moral.
Karakter dapat menunjukkan diri kita sebenarnya dan menentukan sikap, perkataan, dan tindakan. Guru yang memiliki kemampuan membangun citra diri dan karakter positif akan sukses dar mudah membangun karier. la selalu melihat kelebihan diri, bukan kekurangan. Guru mampu membuat dirinya berharga di mata orang lain. Contohnya antara lain citra kejujuran, kesabaran, ketegasan, kedisiplinan dan wibawa merupakan citra positi yang disukai siapapun. Di dalam membangun citra diri ini dibutuhkan kemauan dan keseriusan dan memang tidak mudah, sering tidak akan terlihat langsung hasilnya karena citra diri merupakan produk pembelajaran dari orangtua, pengasuh yang memberikan kontribusi terbesar pada citra diri kita.

C. EVALUASI SOAL LATIHAN
Jawablah pertanyaan di bawah ini
1. Aturan atau kaidah dari perilaku dan tindakan manusia adalah pengertian dari …
a. Etika
b. Moral
c. Nilai
d. Norma
2. Berikut merupakan hal mendasar mengapa manusia harus beretika, kecuali …
a. Kita hidup dalam masyarakat yang majemuk
b. Hidup dalam masa transformasi masyarakat yang lambat
c. Kita hidup menghadapi ideologi-ideologi baru dengan kritis dan obyektif untuk membentuk penilaian
d. Kita hidup beragama untuk memantapkan keyakinan

3. Menjunjung tinggi martabat profesi sebagai pendidik adalah tujuan dari …
a. Etika pendidik
b. Kode etik pendidik
c. Norma pendidik
d. Karakter pendidik
4. Menciptakan suasana sekolah sebaiknya yang menunjang berhasilnya proses pembelajaran merupakan butir-butir …
a. Kode etik guru
b. Etika guru
c. Fungsi guru
d. Tugas guru
5. Salah satu sikap guru atau pendidik PAUD yang positif adalah …
a. Menggunakan kekerasan sebagai teknik disiplin
b. Mengabaikan perbedaan peserta didik
c. Memahami karakteristik tiap peserta didik
d. Kurang melibatkan siswa
6. Menurut Aristoteles, karakter yang baik merupakan …
a. berbuat benar dalam hubungan dengan orang lain, terhadap diri sendiri, dan bertanggung jawab
b. perbuatan yang benar dalam hidup, berbuat benar dalam hubungan dengan orang lain, dan berbuat benar terhadap diri sendiri
c. bertingkah laku yang benar dalam hidup dan bersikap baik terhadap sesama
d. menghargai orang lain dan berkata benar kepada orang lain

7. Karakter sangat berperan dalam menentukan … … seseorang
a. Sikap, perkataan, dan tindakan
b. Sikap, perasaan, dan tindakan
c. Sikap, perkataan, dan keimanan
d. Perkataan, motivasi, dan tindakan
8. Kecakapan khusus yang didukung oleh kesadaran moral, perasaan moral, dan tindakan moral merupakan salah satu definisi dari ...
a. Etika
b. Etos
c. Karakter
d. Kepribadian

BAB IV
PENUTUP
“Ingatlah! Percayalah akan kemampuan Anda mengajar dan kemampuan siswa Anda belajar, maka akan terjadi hal-hal yang menakjubkan”
(Bobbi DePorter)
Guru atau pendidik PAUD memiliki peran sangat besar dalam menjalankan peran mereka selama proses pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan bagi para peserta didik. Ketiga hal ini membuat para pendidik PAUD harus bekerja ekstra dibandingkan pendidik di tingkatan pendidikan lainnya. Mereka juga menjadi model atas sikap positif bagi peserta didiknya. Oleh sebab itu merupakan kewajiban bagi para pendidik PAUD untuk dapat memiliki etika dan karakter yang menunjang mereka untuk menjalankan tugasnya serta berinteraksi baik dengan anak sebagai peserta didik, rekan sejawat, orang tua, serta lingkungan masyarakat yang dapat mendukung proses belajar. Semoga modul ini dapat memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi para pendidik PAUD sehingga nantinya menjadi pendidik PAUD yang berkualitas demi mencetak generasi penerus bangsa yang cemerlang, baik secara kognitif, afektif, dan psikomotor.

LAMPIRAN

A. KUNCI JAWABAN
1. D
2. B
3. B
4. A
5. C
6. B
7. A
8. C

DAFTAR PUSTAKA
Diaz, Carlos F. et al. Touch The Future Teach!. USA : Pearson Education, 2006
Gea, Antonius Atosokhi, Antonina Panca Yuni Wulandari, Yohanes Babari. Relasi dengan Diri Sendiri. Jakarta : Elex Media Komputindo, 2002.
Idris, H. Zahara & H. Lisma Jamal. Pengantar Pendidikan 1. Jakarta : Grasindo, 1992
Ronnie M., Dani. Seni Mengajar dengan Hati. Jakarta : Elex Media Komputindo, 2005
Tim Penyusun Naskah PLPG PGSD FIP UNJ. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Sekolah Dasar. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta, 2011.
Yunus, Firdaus M. Pendidikan Berbasis Realitas Sosial. Yogyakarta : Logung Pustaka, 2004